PENGALAMAN ITU PERSONAL
Bagi saya, narasi pengalaman pada dasarnya merupakan persepsi atau setidaknya hanya berupa kebenaran yang bersifat personal saja, sehingga tak bisa diterapkan pada orang lain. Pengalaman personal wajib berdialog dengan pengalaman pengalaman lain, dikombinasikan dengan metode ilmiah, supaya berubah bentuk menjadi teori, sekaligus jadi sebuah kebenaran relatif yang bersifat sementara.
(Oleh : IBG Dharma Putra)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Keinginan untuk segera menulis, timbul secara spontan, setelah melihat tayangan video pada salah satu WAG. Didalam video kiriman tersebut, ditayangkan paparan sekaligus apresiasi seorang pesohor, terhadap cara orang tua dalam mendidik anak dan membandingkannya dengan pola didikan yang digunakan bagi anaknya. Tentunya, cara yang umum digunakan, menjadi terlihat salah oleh pemamaparannya itu.
Isi paparan didalam video, disetujui oleh para sahabat anggota WAG dan persetujuan para sahabat terhadap gagasan yang diungkapkan didalam tayangan video itu, membuat semakin ingin cepat menulis untuk mengungkapkan pendapat karena pada pokoknya, tidak ingin para sahabat saya, terlalu cepat bersetuju terhadap gagasan itu.
Selanjutnya, sebelum mulai memenulis,banyak saat jeda percuma disebabkan kebinggungan dalam memberi judul tulisan. Judul yang cocok untuk pernyataan tentang, berbedanya proses kehidupan setiap orang yang berakibat pada tidak samanya pengalaman mereka, sehingga berdampak berbeda pada cara berpikir, cara bersikap serta cara bertindak. Dengan begitu, proses menuju sukses, tidak sama pada setiap manusia. Dan itu berarti, pengalaman adalah kebenaran personal semata.
Pengalaman menghadapi binggung, biasanya akan bisa diselesaikan jika masalah yang ada, dipanjang pendekkan, dibesar kecilkan atau dicepat lambatkan. Tetapi ternyata binggung, kali ini, tidak terselesaikan oleh ketiga hal itu, sehingga dipilih jalan alternatif ngawur dengan memilih “ pengalaman itu personal “, sebagai judul, dengan harapan, segera bisa memulai menuliskan prinsip gagasannya.
Gagasan yang dibawakan oleh pesohor dalam video, sebenarnya gagasan biasa, tidak terlalu istimewa tetapi dibawakan dengan amat yakin disertai kepercayaan diri, seperti biasanya para pesohor, pembicara memilih mengembangkan anaknya pada minat serta bakat yang terbaik, dengan fokus kajian pada keseharian anak serta catatan prestasi belajarnya disekolahnya. Tentunya, sekaligus disertai dengan menafikan cara yang umum.
Bagi para orang tua yang terbiasa mengikuti pola rutin dalam mendidik anaknya, memberi pelajaran tambahan bagi prestasi yang belum tercapai optimal, akan sangat tersentak oleh pembicaraan yang amat gamblang dan terasa sangat masuk akal itu.
Bahkan tidak tertutup kemungkinan, bagi para orang tua dengan tingkat kepercayaan diri tak tinggi, berpotensi menimbulkan perasaan salah kepada anaknya disertai penyesalan teramat dalam telah memilihkan pola pendidikan tidak tepat dan menjadi terkagum kagum terhadap cara mendidik anak yang dipilih oleh pesohor itu.
Semua orang tua, akan merasa bersalah pada anak, jika telah memaksa serta menekan anak kesayangannya, untuk berlatih dan belajar ilmu pengetahuan atau keterampilan yang bukan merupakan bakat sekaligus tidak disukainya. Anak yang memang tak suka dan tak berbakat matematika akan tersiksa tetapi tetap tak bisa jika dipaksa belajar matematika.
Dan yang lebih memperbesar penyesalan itu adalah, disaat anak dijejali dengan pelajaran matematika, disaat yang sama, si anak telah kehilangan waktu berharganya, untuk belajar dan berlatih ilmu atau keterampilan yang anak sukai sekaligus merupakan bakatnya. Si anak disibukkan oleh matematikanya tapi tetap tak mampu menguasainya dan disaat yang sama, telah membuang waktu untuk melukis padahal melukis merupakan bakat sekaligus minatnya. Dengan melukis, waktu bersenang anak akan berhimpitan dengan waktu pengembangan diri bagi anak.
Sementara dilain sisi, anak sang pesohor yang menjadi pembicara pada pertemuan tersebut, seolah terlihat sukses dan berkembang pesat pada pola pendidikan yang benar, tepat, penuh kenyamanan dan tak merasa tertekan, karena yang didatangkan adalah guru pelajaran yang disukanya serta dijauhkan dari pelajaran yang anaknya tidak bisa karena diasumsikan, bukan merupakan minat dan bakat si anak.
Sebenarnya, akan terasa lebih bijak jika kedua pola pendidikan diatas, tak dihadap hadapkan secara paradoksal seperti perbenturan tesis dengan antitesisnya. Karena keduanya sama sama benarnya, pada situasi serta kondisinya masing masing. Malah akan cenderung menjadi paripurna jika bisa dikombinasikan oleh para ahli pendidikan.
Keduanya, dapat dipastikan, akan sama sama dilakukan dengan tidak sempurna. Dan pilihan orang tua, kepada salah satu dari kedua pola, pada hakekatnya tergantung dari eksistensi kehidupannya masing masing dan eksistensi, tergantung dari kondisi kemapanan sekarang, proses pengalamannya, serta semua dampak perubahan yang terjadi pada kehidupannya, dan kompleksitas situasi keluarganya.
Cara pertama, secara mendasar sebenarnya merupakan bentuk kepatuhan berbangsa dan mempercayakan pendidikan anak kepada pola normal yang disajikan pemerintahnya. Sebuah pola yang diyakininya telah melalui kajian para ahli pendidikan sebagai cara untuk membekali anak dengan pengetahuan pokok yang wajib dipahami untuk menjalani kehidupan mandiri. Cara itu dianjurkan untuk dipilih oleh sebagian besar masyarakat.
Cara kedua, merupakan cara spesifik sesuai dengan bakat dan minat si anak. Cara ekslusif ini, dianjurkan untuk anak istimewa atau anak dengan orang tua yang istimewa dari berbagai aspek kehidupannya, dengan catatan penting, kelemahan pengambilan data prestasi, bakat dan minat tak diambil hanya berdasarnya nilai pelajaran tapi dengan test psikologi memadai.
Penilaian yang lebih objektif, sekaligus menjadi upaya untuk meniadakan kecendrungan salah karena memaksakan pengalaman orang tua, bagi pemilihan pola pendidikan anak, karena belum tentu si anak akan mengalami proses kehidupan yang serupa dengan orang tuanya.
Contoh kesalahan yang bisa terjadi adalah pada orang tua yang gagal mencapai puncak prestasinya karena tidak mempunyai gelar sarjana, padahal kesarjanaan menjadi indikator penting untuk memperoleh promosi jabatan di kantor tempatnya bekerja. Gagal menjadi sarjana karena sewaktu sekolah, jarang belajar serta hanya mengisi waktunya untuk bermusik, membuatnya melarang anak bermusik dan memaksanya meraih gelar sarjana supaya bisa lebih hebat darinya jika nantinya bekerja dikantor seperti kantor tempat kerja orang tuanya.
Kesalahan terjadi karena bisa saja, si orang tualah yang telah salah memilih pekerjaan, karena tidak memilih menjadi pemusik dan hanya bekerja di kantor sesuai indikator sukses dari orang sekitarnya dan terutama karena arahan orang tuanya, yang nota bene adalah kakek dari anaknya.
Seandainya dia bermusik, mungkin saat ini si orang tua sudah berprestasi ditingkat nasional karena memang sangat berbakat. Dan hal itu berarti, kesalahan ayahnya kepadanya, telah diturunkan kepada anaknya, sehingga seolah menjadi dosa keturunan pada keluarganya.
Bagi saya, narasi pengalaman pada dasarnya merupakan persepsi atau setidaknya hanya berupa kebenaran yang bersifat personal saja, sehingga tak bisa diterapkan pada orang lain. Pengalaman personal wajib berdialog dengan pengalaman pengalaman lain, dikombinasikan dengan metode ilmiah, supaya berubah bentuk menjadi teori, sekaligus jadi sebuah kebenaran relatif yang bersifat sementara,
Dengan begitu, dalam pembicaraan mengenai pengalaman, wajib diambil jarak independen yang objektif terhadapnya, hingga tak terlarut dalam daya kekuatan magis sebagai akibat pengungkapan yang berani, mempesona dan mengombang ambingkan perasaan. Seperti sang pesohor yang begitu cepat mendapat dukungan dari para sahabat saya.
Sebuah daya ungkap agitatif yang membuat semangat karena merasa sempurna sekaligus paripurna, paling bisa serta paling benar atau sebaliknya, menjadi murung sebagai tertuduh serba tak lengkap dengan berbagai cacat cela dan paling bodoh sekaligus paling salah.
Pengalaman selayaknya dibicarakan serta dituliskan dalam kondisi nyata serta objektif sehingga bisa didengarkan atau dibaca hanya sebagai pengalaman dan kebenaran personal, yang tentunya tidak berlaku selain bagi dirinya bahkan bukan merupakan kebenaran relatif yang bersifat sementara, karena nilainya hanya setara dengan testimonni belaka.
Pola pendidikan terbaik adalah kombinasi keduanya sehingga semua anak bisa menyadari sekaligus mengalami pola kerja sama dengan berbagai macam karakter dan keistimewaan manusia. Tetap sering kali hanya tersedia salah satunya, sehingga menjadi penting memegang prinsip bahwa bersekolah adalah proses menjadi pandai dan mandiri di kelak kemudian hari.
Bersekolah membuat tahu baik buruk, serta benar salah dan tidak hanya tergantung dari jawaban guru. Jika sekolah dijadikan meniru guru maka akan ada binggung yang selalu menyertai anak disepanjang hidupnya.
Kebinggungan abadi yang menciptakan orang tua yang tidak pernah dewasa, ditandai dengan, sifat ngotot tentang kebenarannya, selalu merasa benar dan baru ragu serta mengaku salah setelah atasannya atau orang yang lebih kuasa, orang yang lebih kaya, menyalahkannya.
Dan orang tua yang tidak dewasa biasanya, mrupakan seorang penindas yang amat zalim tapi sekaligus sangat pengecut. Sombong dan tidak mau dibantah oleh bawahan yang lemah sekaligus sangat takut, penurut, tak penah membantah bahkan menjilat, apapun perintah yang kuat, kaya dan berkuasa.
Pendidikan yang salah menciptakan daulat kekuasaan yang diisi oleh para pemimpin dan manusia binggung, pengikut kekuasaan serta kekayaan materi semata. Disebuah daerah yang hanya bisa membisu dan meniru karena hanya kekuasaan yang dianggap benar serta kehormatan diraih hanya dengan kekayaan.
Sedangkan pendidikan yang benar, membuat masyarakat mandiri dengan para lulusan yang berani, berperan lengkap sebagai cendekia, pekerja profesional dan kader pemimpin masa depan bangsanya.
Tulisan ini ditutup dengan rasa hormat yang dalam kepada para guru, disertai harapan besar kejayaan bangsa bisa dipikul olehnya, karena yakin bahwa kumpulan pengalaman para guru yang ditularkan di sekolah, akan bisa menjadi tumpuan bangsa, untuk meraih masa depannya.
Banjarmasin
06092021
