
PERADABAN YANG BERDIRI SETINGGI LANGIT, LALU RUNTUH SETENANG SENJA
(Bagian I Dari Pelarian Menjadi Peradaban)
Oleh : Robensjah Sjachran
“Yang lebih mengagumkan, Andalusia menjadi ruang hidup bersama: Muslim, Yahudi, dan Kristen berinteraksi dalam satu ekosistem intelektual.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Kalimat (pada judul) itu terus terngiang di kepala saya saat menapakkan kaki di tanah Andalusia. Di sini, sejarah tidak terasa seperti masa lalu—ia terasa seperti bayangan yang masih berjalan di antara dinding-dinding tua, di lorong-lorong sempit, dan di bawah lengkung-lengkung bangunan yang pernah menyaksikan kejayaan.
Perjalanan saya kali ketiga ke Spanyol dari 16 – 24 Maret 2026 bersama keluarga bukan sekadar wisata. Ketika tiba di wilayah Andalusia—Córdoba, Sevilla, hingga Granada—saya seperti sedang berjalan di atas lapisan waktu. Setiap batu seakan menyimpan cerita, dan setiap bangunan seperti ingin berbicara.
Namun kisah Andalusia tidak dimulai dari keindahan. Ia dimulai dari konflik.
Pada tahun 750 M, Dinasti Umayah di Damaskus runtuh akibat revolusi Dinasti Abbasiyah. Pergantian kekuasaan ini bukan sekadar politik—ia berubah menjadi pembantaian. Keluarga Umayah diburu dan dihabisi.
Di tengah kekacauan itu, seorang pemuda berhasil lolos. Namanya Abdurrahman bin Muawiyah, atau lengkapnya Abu al-Mutharrif ‘Abd al-Rahman bin Muawiyah bin Hisyam bin ‘Abd al-Malik bin Marwan al-Amawiy.
Ia melarikan diri melintasi gurun, meninggalkan tanah kelahirannya, menyaksikan keluarganya hancur. Ia bukan sekadar pelarian—ia adalah sisa terakhir dari sebuah dinasti besar.
Namun sejarah sering memberi ruang bagi mereka yang tidak menyerah.
Abdurrahman tidak langsung menuju Andalusia. Ia terlebih dahulu berlindung di Afrika Utara (kini Maroko), di tengah suku Berber—tanah asal ibunya. Di sana ia tidak hanya bersembunyi, tetapi juga menyusun kekuatan. Ia membawa sesuatu yang tidak kasat mata: legitimasi sejarah dan tekad untuk tidak menjadi catatan kaki dalam sejarah.
Sementara itu, jauh sebelumnya, pintu Andalusia sudah dibuka.
Tahun 711 M, seorang jenderal bernama Thariq bin Ziyad menyeberangi selat sempit menuju Iberia (Spanyol & Portugal kini). Ia mendarat, lalu membakar kapal-kapalnya. Pesannya sederhana dan keras: tidak ada jalan kembali.
Sejak saat itu, wilayah Iberia perlahan berada di bawah kekuasaan Islam. Namun kekuasaan itu belum stabil. Para gubernur datang dan pergi, konflik internal terjadi, dan tidak ada figur kuat yang mampu mempersatukan.
Di titik inilah Abdurrahman melihat peluang.
Pada tahun 756 M, ia tiba di Andalusia. Ia bukan datang sebagai penakluk dengan pasukan besar, tetapi sebagai simbol—seorang pewaris Umayah. Dan dengan kecerdasan politik yang luar biasa, ia berhasil mengonsolidasikan kekuatan dan mendirikan Emirat Córdoba.
Di sinilah … dari seorang pelarian, lahir sebuah peradaban.
Córdoba berkembang menjadi kota yang luar biasa. Jalan-jalannya diterangi lampu ketika banyak kota di Eropa masih gelap. Perpustakaan berdiri megah. Ilmu pengetahuan berkembang pesat—filsafat, kedokteran, matematika, dan sastra.
Yang lebih mengagumkan, Andalusia menjadi ruang hidup bersama: Muslim, Yahudi, dan Kristen berinteraksi dalam satu ekosistem intelektual.
Saya berdiri di Córdoba, memandang lengkungan Masjid Agung (yang kini bernama Mezquita Cathedral de Cordoba)—dan tiba-tiba terasa: ini bukan sekadar bangunan, ini adalah jejak peradaban yang pernah percaya pada pengetahuan dan keterbukaan.
Dan mungkin, pelajaran pertama Andalusia ada di sini:
Bahwa peradaban besar bisa lahir dari keterpurukan—selama masih ada keberanian untuk bangkit dan membangun kembali.







