
PERANG DUNIA “NO WAY”
Oleh : IBG Dharma Putra
“Perang ataupun tidak, dunia tetap dalam situasi keseimbangan rapuh, sehingga wajib disikapi dengan kewaspadaan dini. …”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Ali Khomeini meninggal dunia akibat serangan rudal Israel adalah titik awal prediksi tak terjadi atau terjadinya Perang Dunia III, dan ujung dari prediksi yang benar sangat tergantung kejelian Mossad dalam menilai peranan Ali Khomeini di dalam menentukan arah kebijakan negaranya.
Pada umumnya, jika figur puncak yang paling ideologis wafat, dan struktur di bawahnya lebih pragmatis, maka konflik mereda dan tidak akan membesar, apalagi telah terbuktikan jika kedua pihak, selalu berupaya menunjukkan kekuatan, tetapi tetap menghindari perang terbuka total.
Kepemimpinan pragmatis, lebih menonjolkan rasionalitas ekonomi dan stabilitas politik dalam negeri dibanding mengobarkan perang. Usaha untuk meredakan konflik, potensial diperkuat oleh adanya kepentingan negara besar. Amerika tak ingin perang di Iran, akan mengganggu Indo Pasifik, China bergantung pada stabilitas energi Teluk, Rusia sedang fokus pada konflik Ukraina dan Eropa tidak siap gelombang krisis energi.
Jika perang tak terjadi dan ketegangan secara perlahan mereda maka kejelian Mossad dalam analisis situasi, sekali lagi terbukti serta dapat berarti pandangan Israel secara keseluruhan berpotensi benar sekaligus berarti bahwa BOP memang strategis bagi tercapainya perdamaian dunia, khususnya di jalur Gaza. Walaupun tetap berpotensi rumit dan tidak sederhana tetapi tak perang.
Dilain sisi berarti jalur Gaza tidak sepenuhnya berpenghuni masyarakat awam yang polos tapi dipenuhi oleh berbagai intrik dan kepentingan karena keberadaan kelompok militan yang tidak sepenuhnya berjuang untuk rakyat tetapi punya agenda tersembunyi yang punya kemungkinan, merupakan agenda yang berakibat lebih buruk dari agenda Israel.
Gaza bukan ruang kosong politik, karena ada Hamas, Islamic Jihad Palestina, Faksi kecil kecil tetapi bersenjata, sebagai aktor intelektual non negara yang membuat konflik tak sesederhana, seolah ada sekelompok rakyat bersaing dengan negaranya untuk merebut simpati masyarakat.
Optimisme terhadap tidak terjadi perang, wajib menyisakan ruang bagi kemungkinan terburuk, karena perang tetap bisa meledak jika politik di Iran ternyata tak berbasis pada satu orang saja, sehingga sistem tetap berjalan keras, kematian figur puncak dapat disimbolkan sebagai martir yang potensial mengobarkan semangat perang.
Perang tetap terjadi jika spionase Israel tidak jeli dan salah membaca situasi, yang berarti terjadi perang bukan karena niat, tetapi karena salah tafsir dan itu bisa diartikan sebuah kekalahan awal di pihak Israel. Kemungkinan terjadinya perang akan makin besar jika kaum Hisbollah di Lebanon, ikut campur secara lebih terbuka dan perlu diketahui kemampuan militernya jauh lebih besar dibanding Hamas
Potensi perang tetap ada karena perang sering digunakan oleh politisi untuk menjadi fokus dan menggalang kebersamaan jika di dalam negeri, sedang dalam tekanan politik. Artinya jika ada tekanan politik baru di Iran ataupun Israel maka perang berkobar, eskalasi eksternal digunakan untuk konsolidasi domestik.
Perang ataupun tidak, dunia tetap dalam situasi keseimbangan rapuh, sehingga wajib disikapi dengan kewaspadaan dini. Perang dunia bukan ditentukan kemarahan, tapi rasionalitas kolektif pengambil keputusan, sehingga hanya tercegah secara jangka panjang jika pemimpinnya bukan figur keras dan lebih pragmatis, semua negara bisa menahan diri dan mengutamakan dialog, negara besar, seperti USA, Rusia, Cina, Inggris, membatasi dan mengendalikan respon.
Banjarmasin
01032026







