“PLUS DAN MINUS”
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, terdapat dua cerita tentang nelayan yang menarik perhatian saya, pertama dialog seorang nelayan dengan Alexander Yang Agung, dan kedua dialog antara nelayan dengan sorang sopir. Berikut ijinkan saya menceritakannya.
Pada dialog pertama, Alexander Yang Agung bertanya kepada Nelayan pada saat ia dalam pelayarannya bertemu dengan nelayan yang sedang menangkap ikan, “mengapa kamu berani menangkap ikan diperairan tanpa ijin penguasa laut ini” ? “tahukah kamu bahwa menangkap ikan tanpa ijin saya di perairan ini berarti kamu telah mencuri ikan”. Dari gertakan ini, ternyata diluar dugaan Alexander yang Agung Nelayan itu menjawabnya dengan balik bertanya “Mengapa juga Tuan juga berani mengambil ikan dan mengarungi lautan ini ? apakah karena saya melakukannya dengan perahu kecil karena itu aku disebut Pencuri, sedangkan Tuan malakukannya dengan perahu besar sehingga Tuan disebut “Kaisar” ?
Sahabat ! perhatikanlah dalam posisi sosial Penguasa terhadap wilayah lautan itu Alexander Yang Agung menempatkan dirinya pada posisi “plus” sedangkan Nelayan yang menangkap ikan diperairannya tersebut diposisikannya sebagai “minus”, sehingga logika yang dipakai oleh Alexander “yang plus menguasai yang minus” dan tafsir baik buruk perbuatan ditentukan oleh yang plus. Pada konteks inilah Plus menguasai minus, minus menjadi obejknya plus dan minus harus berada pada posisi pihak yang dikendalikan, layaknya relasi antara subjek dan objek.
Pada cerita kedua, terjadi dialog antara seorang sopir dengan nelayan, saat seorang sopir ikut nelayan melihat bagaimana sensasinya menangkap ikan di laut, tentu niatan sopir lebih kepada “rekreasi” di laut dengan ikut menumpang kapal nelayan ini. Saat perjalanan ke laut itu, sopir ini bertanya kepada nelayan “tahukah kamu bagaimana caranya mengganti ban mobil yang mengalami kebocoran ?” mendengar pertanyaan ini tentu nelayan mengatakan “saya tidak bisa”. “Masa kamu tidak bisa, itu mudah saja bagi saya dan sering saya lakukan saat ban mobil saya bocor atau kempes”, kata sopir itu dengan nada mengejek. Nelayan ini tetap tenang mendengar “ejekan” sopir itu, namun saat berada di laut dan terlihat angin kencang serta awan gelap, Nelayan ini bertanya kepada sopir, pandaikah kamu berenang ? “tidak” kata sopir menjawab, lantas nelayan itu mengatakan kemungkinan perahu kita akan tenggelam dan kalau tidak bisa berenang, saya ucapkan “wassalam” karena sayalah yang bisa berenang, kata nelayan.
Sahabat ! perhatikanlah saat sopir merasa mempunyai keahlian atau kepandaian mengganti ban mobil, maka ia merasa berada pada posisi “plus” dan menempatkan nelayan yang tidak mempunyai kepandaian itu sebagai “posisi minus”. Namun sebaliknya saat nelayan bertanya apakah ia bisa berenang ? ternyata sopir itu tidak bisa berenang sedangkan nelayan itu pandai berenang, hal ini berarti pada posisi kepandaian berenang sang sopir justeru berada pada posisi minus, sedangkan nelayan berada dalam posisi plus.
Dari kedua cerita di atas, pada cerita pertama point saya “kehidupan kita sering bertutur saat kita merasa mempunyai kelebihan dibidang apapun (ilmu, harta, kekuasaan dan seterusnya) ada kecenderungan menilai orang lain lebih rendah dari diri kita, sehingga menempatkan diri kita sebagai superior terhadap orang lain”. Relasi yang terjalin lebih melihat kepada kepentingan diri kita, termasuk merasa berhak mengatur dan memposisikan orang lain sebagai objek “kesenangan” kita, akibatnya kita bisa kehilangan “rasa kemanusiaan” dan dari sinilah sikap sombong bermulai. Sedangkan pada cerita kedua point saya “kehidupan kita bertutur bahwa setiap kita mempunyai kelebihan dan sekaligus mempunyai kekurangan” oleh karena itu kita tidak perlu menganggap rendah orang lain atas kelebihan yang kita punya, karena pada saat yang sama orang lain juga mempunyai kelebihan yang tidak kita miliki.
Sahabat ! cerita pertama “plus” merendahkan “minus”, sedangkan cerita kedua telah menyadarkan “plus” dan “minus” seharusnya bersatu untuk melahirkan energi kebaikan dalam kehidupan.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.


