SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Cerita peribadahan unik, menarik dan sangat inspiratif, datang dalam cerita tentang tata cara berpuasa , seorang karib sangat kental, diawal mulanya,mengikuti puasa ramadhan. Menikmati puasanya,untuk sensasi berbuka, makan nikmat di saat amat lapar.
Antusiasme unik tersebut, potensial diraih pada bulan ramadhan karena semua orang serumah tidak makan dan hampir semua orang sekantor turut berpuasa, sehingga godaan untuk makan sangat jauh berkurang dan lapar bisa ditahan sampai menjadi sangat lapar.
Dalam perjalanan selanjutnya, antusiasmenya bertambah dan puasa terasa semakin nikmat jika menu, macam dan jumlah makanan yang tersedia saat berbuka, adalah makanan biasa seperti di saat tidak berpuasa dan tak berlebih karena sensasi nikmatnya tak tersita oleh sesal, akibat dibuangnya banyak makanan sisa.
Lama kelamaan, puasa terasa semakin nikmat jika disertai sembahyang teratur, karena otot tak kaku dan perasaan tidak nyaman akibat minum berlebih, sirna tak ada lagi. Beribadah gembira, tanpa keinginan muluk untuk bisa masuk surga. Penentuan masuk ataupun neraka, ditempatkan sebagai hak prerogatifNya, hanya bisa didapat melalui rahmatNya.
Ibadah seperti itu tidak layak dihakimi, karena tidak diketahuinya niat terdalam yang ada pada nurani pelakunya, sekaligus tidak diketahui juga, salah benar dan baik buruknya dan sebaiknya hanya perlu ditempatkan pada noktah sentral pertobatan seorang manusia.
Ibadah puasa sebagai momentum sekaligus kontrol bagi pertobatan, memang seharusnya dilakukan spontan serta karena suka, tanpa ada pretensi apapun juga. Puasa dan sembahyang yang dilakukan karena suka, tidak lekang oleh waktu dan akan terlaksana seumur hidupnya, sehingga dapat menjadi arena introspeksi dan kontrol diri, termasuk bagi pertobatan agar tak tergelincir kembali dan alami kegagalannya.
Menjadi lebih mantap, jika didahului kegiatan sembahyang menghadap dan melapor kepada yang kuasa serta akan sangat khusuk, apabila dilakukan di tengah malam nanti. Mohon untuk dihapus semua dosa, diberi kesadaran tentang benar salah ataupun baik buruk disertai sesal teramat dalam terhadap semua kesalahan dan keburukan yang telah dilakukan disertai tekad bulat untuk tidak mengulanginya.