RENUNGAN KECENDEKIAWANAN (Tulisan kolaboratif alumnus FKUA 1979)

“RENUNGAN KECENDEKIAWANAN”
Tulisan kolaboratif alumnus FKUA 1979
Oleh :

Agus Sulistiyono
Anung Nailil Marom
Budi Bhaktiyasa Darmajati
IBG Dharma Putra ( editor )
Indri Astuti
Meisy Andriana Moedanton
Widayat Joko Santoso

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Dengan nada bicara guyon, seorang sahabat, berpendapat bahwa sebuah renungan wajib ditulis dengan nuansa filosofis, serta dibiarkan berkesan agak ruwet, agar pembacanya lebih bersungguh sungguh menyimak semua tulisan dan maknanya dipahami setelah berpikir serta melakukan perenungan. Ruwetnya tidak boleh diruwet ruwetkan tetapi karena proses dialogis dari berbagai pendapat yang saling silang dan bukannya sekedar ruwetnya jalan pikiran tidak sistematis yang sok cendekia.

Sesungguhnya, perdebatan ruwet cangkrukan ala mahasiswa keleleran, tidaklah terlalu sukar ditiru dan dipahami karena sudah amat biasa dilakoni sewaktu belajar dan berdebat dengan perut sedikit lapar disertai otak melompong di salasar depan kampus, kaki lima depan rumah sakit, student centre, kesunyian pojokan ruang penyimpanan kadaver (awetan mayat) atau di perpustakaan. Cangkruk pada pilihan tempat sesuai selera tetapi bertujuan sama agar bisa lulus ujian besok harinya.

Belajar dengan cangkrukan, membuat waktu dihabiskan untuk ngobrol tanpa tujuan, hingga waktu berlalu cepat dan membuat ujian seolah selalu mendadak serta belajar dengan sistem kebut semalam (SKS) menjadi lumrah. Inisiatif cerdas,selalu muncul dalam keadaan kepepet, mengcopy catatan teman menjadi jalan keluar bersama. Dipilihlah catatan teman terlengkap, saking lengkapnya, batuk dosenpun tercatat didalamnya. Tentunya yang tulisannya juga jelas terbaca. Hal itulah yang menyebabkan keluarnya ucapan terima kasih kepada pemilik catatan terpilih, karena tanpa catatan mereka, semuanya belum tentu lulus menjadi cendekia.

Hanya lulus, masih dimungkinkan oleh catatan foto copyan tapi menjadi arif serta mempunyai pandangan luas dengan kedalaman ilmu, tidak cukup sampai disitu. Seseorang harus banyak membaca serta perlu menempa hidup dengan pengalaman, khususnya yang dialami sendiri, selama bertugas dalam profesinya, bila ingin sampai ketingkat itu. Diyakini, tidak semuanya bisa mencapai kemampuan maksimal, disegala bidang karena keterbatasan manusiawi, untuk itu,wajib diatasi dengan menekuni satu bidang yang paling diminati.

Tidak jarang kompetensi maksimal, potensial tergali karena adanya tantangan serta stres.
Tekanan yang timbul oleh stres, akan memberi kemampuan berpikir kreatif, kecerdikan agar mampu bertahan hidup serta selalu mendapat jalan keluar dari kebuntuan hidup. Stres yang terkelola, dapat menjadi awal timbulnya sikap bertanggung jawab,kearifan dan sikap hormat pada sesama.

Sebuah kolaborasi pengalaman, disertai oleh sejarah hidup para cendekia, dengan berbagai keterbatasan, membuat perenungan jiwanya, bersepakat bahwa cendekia wajib mempunyai kecendekiawanan, berupa ilmu pengetahuan yang tercampur merata dengan keterampilan serta kearifan didalam setiap dirinya.

Ilmu pengetahuan beserta keterampilan dalam kearifannya adalah roh dari kecendekiawanan. Roh tersebut, seperti api, yang siap menerangi lingkungannya. Sebuah api, disertai oleh bara semangat perbaikan menuju kehidupan penuh keberuntungan, sehingga hari ini menjadi lebih baik dari kemarin dan esokpun akan membaik lagi. Sebuah continous improvement.

Api itu, tidak dibiarkan terkurung sepi didalam diri, tetapi wajib dipindahkan kelain diri supaya setiap diri mempunyai hati nurani yang mampu menjadi suluh penerang kehidupan dan secara bersama sama, berkolaborasi membuat cerah cara berpikir insani, sampai terciptanya damai di dunia. Pengelanaan api dari hati ke hati, bak berlomba dalam kebaikan.

Memindahkan api kecendekiawanan dari diri ke orang lain, memerlukan bekal kemampuan kristalisasi dan konservasi. Kristalisasi adalah kemampuan membuat pesan yang padat tapi sederhana, rinci serta runtut sehingga mudah dipahami. Dan konversasi adalah kemampuan menyampaikan isi pesan secara jelas dengan bahasa sederhana, langsung pada tujuannya sehingga mudah dimengerti.

Konservasi didasari kecerdasan komunikasi, yang berisikan emosi, ekspresi,komunikasi dan kolaborasi sedangkan kristalisasi memerlukan kemampuan personal, jaringan literasi disertai daya hindar dari ketidak mampuan belajar dan kesalahan berlogika.

Kepadatan pesan serta penyampaian dengan cara sederhana, belum cukup untuk membuat ilmu pengetahuan dapat ditularkan, dipahami dan dijadikan pegangan kehidupan. Terdapat karakter penting yang harus dimiliki cendekia, agar api yang berpindah, dipindah, terpindah, akan bisa tetap abadi disanubari setiap insan, yaitu kejujuran dan kerendah hatian.

Didalam kehidupan, diperlukan cendekia yang mampu ikut memperbaiki dunia, sesuai tujuan keberadaannya.Hakekat keberadaan cendekia merupakan proses wajar, bahkan takdiriah dan sesuai dengan kodrat kehidupan yang harus semakin membaik. Keberadaan para cendekia diharapkan menjadi momentum ditemukannya cara baru pengaturan hidup serta kehidupan manusia dan perbaikan perilakunya terhadap bumi.

Pandangan diatas, menempatkan cendekia itu dalam peran untuk mengurangi efek buruk dari kebodohan kumulatif manusia, yang cendrung merusak alam. Sekaligus berpendapat bahwa bumi sebenarnya lebih awet jika tidak dihuni manusia, dan itu berarti keberadaan manusia tanpa cendekia akan timbulkan pengerusakan dunia.

Pandangan rendah hati, menempatkan dirinya sebagai makhluk papa yang penuh khilaf serta lupa,hingga seolah tercipta sebagai kesalahan yang merusak ekosistemnya. Merupakan cara pandang kontemplatif, supaya manusia selalu belajar dan berperan sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Dan dari proses belajarnya itu, muncul cendekia, dalam setiap jaman, berperan untuk mengurangi pengaruh kebodohan, kerakusan, terhadap kerusakan ekosistem oleh kaumnya. Dari pandangan itu, cendekiawan mempunyai kewajiban berkontribusi dalam pengembalian mutu ekosistem bumi, ke situasi awal, seperti sebelum ada banyak manusia diatasnya.

Seolah cendekia adalah utusan Tuhan, dalam menyebarkan rahmatNya, pada seluruh alam. Dan cendekia berwajiban untuk menunjukkan ilmu Tuhan yang tersirat dalam setiap makhluk ciptaanNya. Sebuah pandangan yang terasa berlebihan tapi begitulah kondisi ideal seorang cendekia, yang berawal dari penempatan diri sangat papa, tiarap rata dengan tanah hingga mudah memahami alam.

Tuhan bisa mengutus siapapun untuk menjadi cendekiawan pioner yang bertugas sebagai pencerah, layaknya inovator. Tentunya dalam jumlah sangat sedikit, hanya dua persen dari seluruh umat manusia. Manusia yang berguna bagi manusia tanpa membedakan agamanya.

Mempelajari laku hakiki seorang cendekiawan adalah belajar tentang Tuhan, bukan sekedar belajar agama. Tuhan bersemayam dalam hati orang berilmu tanpa memberi sedikitpun tanda tak seperti agama bisa ditampakkan, bahkan terkadang menjadi pembeda ekslusif diantara manusia. Memahami Tuhan sangatlah rumit, karena disaat yang bersamaan bisa sebagai objek sekaligus subjek. Karenanya, maka Dia, tak akan pernah dikenal dan dipahami dengan sebenar benarnya.

Cendekiawan membuka konsep manajemen kehidupan alam semesta yang sebelumnya, telah ditetapkan oleh Tuhan. Cendekiawan mengajarkan cara menghargai ekosistem dan kehidupan pada manusia sebagai perwujudan penghargaan ke dirinya sendiri. Cendekiawan tidak dibayar tapi dihargai serta ditempatkan pada posisinya secara profesional sekaligus proporsional. Hanya karena adanya negara, maka cendikiawan dihargai dengan gaji, yang sebenarnya berasal dari masyarakat

Menciptakan masyarakat berpendidikan tidak persis sama dengan menciptakan para cerdik pandai, karena yang pertama didapat dengan mendirikan sekolah sedangkan cendekiawan adalah produk budaya suatu bangsa, sebuah kebudayaan adi luhur.

Banyak cendekiawan yang tak memilih untuk menjadi cendekia, mereka tidak berencana, bahkan tidak pernah membayangkan, mimpi atau mengkhayal menjadi cendekia. Mereka belajar karena tuntutan budaya belaka, pada masa kanak kanaknya, hanya untuk kelihatan pintar serta mendapat pujian ibu. Sedangkan
di sekolah menengah, agar tak terlihat bodoh dan tidak mempermalukan orangtua. Ketidak sungguhan belajar berlanjut ke masa kuliah, saat ini, belajar hanyalah salah satu cara agar lulus ujian.

Barulah dimasa setelahnya, karena dipicu oleh panggilan jiwa untuk dasar pengabdian pada kehidupan, barulah tersadarkan untuk belajar bersungguh sungguh, sebagai rasa tanggung jawabnya terhadap masyarakat yang percaya pada kemampuannya.

Pada masa itu, belajar menjadi kunci utama agar bisa membantu memberikan solusi dalam pemecahan masalah masyarakat. Setelah jadi dokter berpraktik kedokteran, belajar sebagai sarana untuk bisa memahami masalah pasien sehingga bisa memberikan solusi yang tepat dan efisien dalam penatalaksanaan pelayanan medis serta dapat menduga dan memprediksi perbaikan serta perburukan klinisnya, hanya berdasarkan info klinis sangat terbatas.

Belajar menjadi semakin penting dan prioritas saat menjadi pengajar, sebagai rasa tanggung jawab kepada kebenaran ilmu yang diajarkan ke para murid. Selayaknya pelajaran berisikan perkembangan pengetahuan terbaru, hingga memerlukan daya mampu dalam menyaring referensi mana yang benar agar tak diombang ambingkan oleh laporan penelitian yang sering kontroversial.

Pada tingkatkan itu, belajar perlu didasari oleh belajar, karena memilih referensi secara tepat memerlukan pemahaman metodologi riset dan mengetahui kesahihan sebuah hasil riset yang dilaporkan di journal kedokteran. Juga harus memahami pengetahuan biomolekuler supaya tahu “confounding variable” yang tidak jarang berpengaruh pada hasil sebuah penelitian.

Begitu rumit dan sulitnya kehidupan cendekia sehingga dahulu, di zaman kekaisaran Cina, cendekiawan merupakan aset bangsa yang dilindungi dan diselamatkan paling awal disaat ada peperangan. Penghargaan terhadap ilmu pengetahuan serta cendikiawan, berlangsung sampai sekarang, dengan jaminan bagi hidup beserta semua kebutuhannya.

Hal yang lucu terkadang terjadi di masyarakat, penghargaan diberikan pada “orang pintar”, yang tak tersertifikasi tapi hanya berdasarkan sugesti. Hal senada membuat perburuan gelar terjadi gila gilaan karena begitu berharganya titel dan bukan ilmunya. Pada kondisi begitu, rasa hormat didapat dengan uang dan hanya sedikit orang bisa dihargai karena kemampuan yang dimilikinya.

Sebenarnya, penghormatan terhadap cendekia berbanding lurus dengan kemajuan bangsa, karena salah satu sumber kekuatan dunia adalah cendekia, disamping tentara,ulama dan pekerja. Sasaran penghancuran kemajuan dari suatu bangsa adalah dengan menghilangkan para cendekianya. Seharusnya cendekia diberi penghormatan layak agar menjadi idola dan para pemuda rajin belajar untuk sepertinya.

Cendekiawan bukanlah produk senyap sebuah kesepian, karena harus dikelola serius melalui sebuah sistem yang berhirarki disertai kontrol sehingga dapat menghasilkan para cendekia yang tidak akan kehilangan nilai kejujuran dan keberaniannya. Penciptaan seorang cendekia adalah proses yang berawal dari diri sendiri, dan pada pengembangan selanjutnya, akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan, terutama lingkungan kecil disekitarnya.

Ditemukan pendapat yang melihat pilihan jadi cendekia adalah memilih untuk tidak cendikia, karena disaat memilih menjadi cendekiawan, berarti menetapkan pilihannya melalui proses yang sangat pelan, cermat serta penuh kehati hatian, agar pilihannya sesuai dengan minat, bakat dan kemampuan intelektual tertingginya sehingga bisa dilaksanakan secara konsekuen dan konsisten.

Pandangan diatas melihat cendekia mumpuni adalah cendekia yang merasa semakin tidak cendekia, sehingga dia dahaga pengetahuan, mempunyai tingkat pemahaman yang tinggi dan rasa hormat sejati kepada semua ciptaan Tuhan.

Tanpa diawali oleh pendalaman proses, akan tercipta cendekiawan hampa serta rendah diri, yang mudah masuk dalam scientific traps dan hanya meniru tanpa tahu dasarnya sehingga dikhawatirkan, berkhianat dalam perannya sebagai inovator dan pembaharu bagi dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Pendalaman proses tidak berhenti pada saat pilihan telah ditetapkan karena cendekiawan wajib mawas diri, mengetahui keterbatasan sehingga mempunyai pemikiran terbuka untuk menerima setiap sapa berbeda dan mencoba memahaminya disertai rasa hormat teramat dalam. Cendekia mencari kebenaran melalui proses dialogis dengan sesama cendekia dan juga dengan sesama manusia.

Puncak dari keterbukaan pemahaman disertai kerendah hatian seorang cendikia terjadi saat merasa tak berisi apa apa, kembali ke titik nol hingga mampu melihat diri dan semua isi bumi tanpa pretensi kecuali sebagai kenyataannya semata, seperti apa adanya.

Pilihan potensial tak boleh melarutkan seorang cendekia di kedalaman ilmunya sehingga lupa adanya kehidupan lain yang mewarnai dunia. Sebagai cendekia, dia haruslah tetap seorang manusia, sehingga tidak seperti katak didalam tempurung keilmuannya, merasa maha tahu di setiap kejadian padahal sebenarnya tak selalu begitu. Alangkah ruginya menjadi cendekia yang kehilangan warna warni kemanusiaannya

Rasa kerendah hatian yang dimiliki cendekia, bersifat genuin, karena kesadaran bahwa ilmu pengetahuan yang ditekuninya membuat ilmu pengetahuan lain, tidak sempat dipelajarinya hingga menjadi kelemahan yang memerlukan sentuhan pertolongan orang lain.

Semua pandangan yang telah mengemuka, bersepakat bahwa manusia dikatagorikan cendekia, apabila memahami hakekat maupun peran semua manusia sebagai cendekia. Dan gradasi kecendekiawanan meningkat apabila semakin adanya kesadaran akan banyaknya ketidak cendekiawanan yang ada pada dirinya sehingga tidak berani disebut cendekia serta mempasrahkan semuanya pada penilaian dari orang lain.

Banjarmasin
06082021

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini