SELAMAT HKN (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

SELAMAT HKN
Oleh : IBG Dharma Putra

“…Hari Kesehatan Nasional (HKN) di tanggal 12 November 1964, bukan hanya simbol kemenangan melawan wabah, tetapi bermakna lebih dalam, sebagai ajakan untuk mengingat bahwa kesehatan adalah fondasi kehidupan, tampak sederhana, namun menjadi penyangga segala mimpi dan rencana manusia”.

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Di setiap awal November, ingatan berjalan ke tahun 1950, saat penyakit Malaria bagi bangsa indonesia, bukan hanya penyakit, tetapi bayang hitam yang mengintai ketentraman kehidupan, kehadirannya merupakan ancaman kematian, terbuktikan dengan ribuan jiwa melayang dan banyak keluarga kehilangan orang yang mereka cintai.

Di saat yang sama, ingatan juga berjalan ke desa Kalasan, Yogyakarta, karena di desa itulah pada 12 November 1959, Bung Karno, menekan tuas penyemprot DDT untuk pertama kalinya. Langkah kecil yang menjadi tanda perjuangan bangsa melawan penyakit Malaria, tak sekadar menetapkan kebijakan kesehatan, melainkan simbol sebuah tekad untuk bertindak melawan derita dan menyelamatkan masa depannya,

Penyelamatan sistematik, tahap demi tahap, di mulai dengan pembentukan institusinya, diikuti dengan kerja besar menyentuh rakyat dengan penyemprotan dari rumah ke rumah, disertai penyuluhan. Menunjukkan pada masyarakat, bahwa kesehatan tak berhenti pada asa semata tetapi bisa terwujud menjadi nyata.

Perjuangan lima tahun yang menunjukkan fakta bahwa 63 juta penduduk terlindungi sehingga melahirkan Hari Kesehatan Nasional (HKN) di tanggal 12 November 1964, bukan hanya simbol kemenangan melawan wabah, tetapi bermakna lebih dalam, sebagai ajakan untuk mengingat bahwa kesehatan adalah fondasi kehidupan, tampak sederhana, namun menjadi penyangga segala mimpi dan rencana manusia.

Kesehatan bukan sekadar urusan rumah sakit, dokter, atau obat-obatan, tetapi urusan setiap warga negara. Kesehatan adalah cara menjaga tubuh, cara saling melindungi, cara membuat kecerdasan lebih tajam dan membangun masa depan yang lebih terang, sehingga tidak boleh dilihat sebagai akibat, tapi sebagai syarat untuk keberlanjutan peradaban.

Orang sehat dapat hidup produktif, yang berarti memahami diri sendiri dan lingkungan sehingga mampu menciptakan ruang hidup ramah bagi tubuh dan jiwanya. Hal itu sekaligus mempunyai arti bahwa masyarakat sehat potensial mampu membangun ekonomi, memperkuat pendidikan, serta memelihara solidaritas sosial.

Dengan begitu, HKN wajib dimaknai lebih luas , tak hanya sebagai kenangan sukses tetapi juga sebagai Hari Kesehatan Publik Indonesia. Isunya mungkin berbeda, tetapi ruh perjuangan masih sama. Isunya bukan hanya wabah dan penyakit malaria tetapi stunting, penyakit tidak menular, kesehatan mental, perubahan iklim, ketahanan sistem kesehatan, khususnya sistem kesehatan primer, yang hakekatnya tetap sama, menjaga manusia, mempertahankan harapan hidup dan memperkuat martabat bangsa.

Isu dengan semangat pencegahan, deteksi dini, dan promosi hidup sehat, mengingatkan bahwa mencegah lebih baik dibanding mengobati, dan bahwa kesehatan tidak lahir dari upaya individu semata, melainkan dari kerja sama pemerintah, tenaga kesehatan, swasta, akademisi, keluarga dan para tokoh masyarakat.

Dengan memaknai HKN sebagai hari kesehatan publik, maka akan selalu teringat tujuan sistem kesehatan untuk mewujudkan masyarakat sehat sejahtera dan bahagia, melalui layanan merata, sistem tangguh terhadap ancaman dan peran serta masyarakat. Bahwa Kesehatan itu adalah cinta kehidupan, sedang 12 November adalah pengingat bahwa cinta itu pernah diperjuangkan bersama dan masih akan terus diperjuangkan sampai nanti. Selamat HKN untuk Indonesia.

Banjarmasin
11112025

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini