SESUAI JALANNYA ?
Fakta memperlihatkan pula adanya pada setiap jalur jalan yang kita pilih itu ada yang kecil dan ada yang besar, tapi secara “holistik” jalan kecil yang kita pilihpun akan membentuk dan sekaligus mengisi ruang-ruang yang belum atau tidak sampai tercover oleh mereka yang memilih jalan jalan besar tersebut. Disinilah saya menemukan esensi adanya saling melengkapi pada setiap jalan dengan dengan konsumsi masing-masing, sehingga kita tidak perlu “keder” atau “minder” pada jalan lebar dan luas yang dipilih oleh sahabat atau kolega kita yang lain yang memang punyai kepasitas dan integritas untuk membuat dan memilih jalan itu.
(Syaifudin)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, proses menemukan makna dan memberi makna dari apa yang ditulis dan diceritakan dalam serial secangkir kopi seribu inspirasi ini terus berjalan, saat termenung apakah tulisan dan program talk shownya memberikan manfaat atau tidak bagi sesama di era digital sekarang ini, terkadang sebagai manusia pertanyaan itu muncul dalam benak saya, apalagi saat ada “kelelahan” fisik dan fikiran dari terpaan “angin kehidupan” yang membuat saya terus merenung untuk berhenti atau meneruskan seri tulisan dan program talk shownya secangkir kopi seribu inspirasi ini.
Sebagai insan yang besar dikalangan akademis, saya mengamati karya-karya besar dan dalam dari segi tema dan halaman dalam bentuk buku (kitab) dari para kolega sahabat yang konsen dibidang akademis, dan sayapun sangat kagum akan karya tersebut, apalagi karyanya diapresiasi oleh kolega akademisi didalam dan luar negeri, menjadi pembicara dimana-mana, memaparkan substansi karyanya tersebut. Hal ini juga “menggoga” saya untuk berhenti menulis uraian singkat dan talk show singkat baik yang monolog dengan durasi 5-7 menit dan talk show satu jam bersama sahabat lainnya, kemudian mengalihkannya karya yang bersifat akademis daripada menulis yang bersifat populer di seri secangkir kopi seribu inspirasi ini.
Sahabat ! jujur pergulatan itu masih ada sampai saya menuliskan “kegalauan” pribadi saya ini, namun sampai saat sekarang juga saya belum bisa mengambil putasan, sementara pilihan ideal untuk melakukan dua-duanya juga mengalami keterbatasan pribadi yang berkenaan dengan waktu dan kesibukan pada dunia “populer” yang saya jalani tersebut. Namun akhirnya sampai pada batas perenungan saya memang harus memutuskan dan mengambil sikap.
Sikap yang diambil adalah prinsip “tetap berkarya”, lantas karya yang seperti apa ? saya kemudian menemukan jawabannya, yaitu karya yang SESUAI JALANNYA, yaitu jalan yang sesuai dengan kapasitas dan integritas yang saya miliki dengan sasaran mereka yang juga memiliki jalan seperti saya yang masih “minim ilmu dan hikmah kehidupan” sehingga perlu berdiskusi dalam jalan yang sama untuk mencari kesempurnaan yang tidak akan pernah sempurna ini.
Menyadari sepenuhnya ada banyak jalan yang ditempuh oleh para kolega sesuai kapasitas dan integritasnya masing-masing, dengan pengikut atau pembaca atau kolega yang dicerahkan dalam jalannya sendiri-sendiri berdasarkan “bobot” keintelektualan dan kebijakan hidupnya masing-masing. Oleh karena itu karya buku-buku yang sifatnya kajian ilmiah dan komphresifsif serta mendalam biarlah saya mengambil jalan menjadi orang yang ikut “membaca dan memperlajarinya”, akan tetapi tidak ikut melahirkan karya seperti ini, karena jujur saya “belum” punya kapasitas dan integritas yang seperti para sahabat atau kolega seperti itu.
Bahkan saya menganggap kalau suatu karya itu di beri peringkat satu sampai dengan seratus, maka pada setiap peringkat itulah jalan masing-masing dalam berkarya dan “anehnya” memang pada setiap jalan itu akan ada orang yang mengikuti jalan kita. Disamping itu dalam ilmu dan kebijakan hidup, selalu ada yang lebih tinggi dan lebih tinggi lagi, seperti peribahasa “selalu ada langit di atas langit”, karena itu proses saling mengisi dan melengkapi pada setiap “langit” tersebut menjadi sinergi alamiah.
Berada dijalan peringkat seri secangkir kopi seribu inspirasi inipun saya terkadang terharu juga, karena ada saja orang memilih yang sejalan dengan apa yang saya ceritakan sehingga saat memarkir diparkiran, seorang juru parkir menyapa “salam secangkor kopi” sembari bercerita mengikuti seri tayangnya, saat menghadiri resepsi perkawinan masih ada juga satu dua orang menyapa dengan salam secangkir kopi, saat mampir diwarung di luar kota, masih ada yang menyapa dengan salam secangkir kopi, bahkan saat di supermaket di tanah haram (Mekah) ada yang menyapa dengan “secangkir kopi seribu inspirasi”.
Begitu pulalah, para sahabat dan kolega yang berkarya lewat menulis dan berbicara apapun sesuai dengan kapasitan dan integritasnya, saya yakin kita masing-masing punya jalan dan pada setiap jalan itu ada yang mengikutinya. Dalam konteks inilah sebuah karya secara relatif tidak bisa dibandingkan secara “aple to aple”, karena kita punya kelas pada kelas kita masing-masing, dan adanya kelas-kelas kita tersebut justeru akan menjadikan kita saling belajar dan menghargai, karena berjuang pada jalan masing-masing.
Fakta memperlihatkan pula adanya pada setiap jalur jalan yang kita pilih itu ada yang kecil dan ada yang besar, tapi secara “holistik” jalan kecil yang kita pilihpun akan membentuk dan sekaligus mengisi ruang-ruang yang belum atau tidak sampai tercover oleh mereka yang memilih jalan jalan besar tersebut. Disinilah saya menemukan esensi adanya saling melengkapi pada setiap jalan dengan dengan konsumsi masing-masing, sehingga kita tidak perlu “keder” atau “minder” pada jalan lebar dan luas yang dipilih oleh sahabat atau kolega kita yang lain yang memang punyai kepasitas dan integritas untuk membuat dan memilih jalan itu.
Sahabat ! Meyadari sesadar-sadarnya, apa yang saya tuturkan sangat jauh dari nilai-niai ilmiah dan kearifan hidup, namun niatan berbagai kepada sesama lewat tulisan dan tayangan ini sebagai rasa syukur atas anugerah dari Yang Maha Kuasa atas kemampuan menulis dan berbicara yang diberikanNya kepada saya. Sejalan dengan itu adanya sapaan itulah yang juga membuat saya termotivasi untuk tetap menulis dan menyajikan program talk shownya, karena ternyata masih ada kebermanfaatan bagi sesama.
Akhirnya sementara ini saya putuskan untuk tetap mengambil jalan ini, karena jalan ini sesuai dengan “keawaman” kapasitas dan integritas saya, namun saya tetap berdoa semoga ini menjadi amal ibadah.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
