SISI LAIN DARI DUA SISI DALAM SATU MATA UANG
Saat kejahatan menyelimuti dirinya dapat “dibaca” sebagai “panggung” kebaikan yang belum mendapat tempat dalam wujud perilakunya, begitu sebaliknya saat kebaikan menyelimuti hidupnya, didalamnya ada “kejahatan” yang tidak mendapat tempat dalam wujud perilakunya
(Syaifudin)
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, istilah dua sisi dari satu mata uang adalah sudah sangat lumrah dalam kehidupan kita untuk menggambarkan bahwa dalam hidup itu selalu ditemukan dua hal yang berbeda akan tetapi menjadi satu kesatuan, seperti sisi baik dan sisi buruk atau sisi suka dan sisi duka, sehingga kedua sisi ini saling berganti dan sekaligus saling melengkapi karena sesungguhnya keduanya saling melekat.
Begitulah kehidupan kita bertutur dalam diri kita sendiri ada sisi baik yang sering disebut “naluri malaikat” dan sisi jahat yang disebut “naluri iblis”, keduanya berusaha menonjolkan diri pada sisinya, sehingga seolah-olah terjadi perseteruan yang permanen sepanjang kehidupan manusia.
Perseteruan itu semacam tarik ulur dalam drama kehidupan manusia, sehingga iapun disebut “insan” yang justeru mempunyai kualitas derajat sangat tinggi dibandingkan makhluk lainnya kalau kemudian ia bisa mengendalikan “sisi iblis” dan memenangkan “sisi malaikat”, dapatlah ia menjadi makhluk yang justeru lebih “mulia” dari Malaikat yang tidak mempunyai sisi jahat dalam dirinya.
Begitu juga kalau perseteruan itu kemudian sisi jahat tidak dapat dikendalikan dan menguasai drama kehidupan kita, maka “iblis”lah yang menguasai kehidupan kita, sehingga kita masuk kelembah makhluk yang paling hina sebagai makhluk, lebih hina dari iblis itu sendiri yang seluruh misi hidupnya sampai hari akhir nanti adalah menyesatkan, sedangkan manusia ada misi yang mulia.
Perseteruan itu hanya terjadi pada diri kita manusia, karena perseteruan itu tidak merugikan sedikitpun akan “Kemuliaan dan Kekuasaan Yang Maha Kuasa”, bahkan seberapapun derajat kalah menangnya perseteruan itu, mereka sama-sama “meyakini akan kemuliaan dan kekuasaan Yang Maha Kuasa tersebut.
Saat kejahatan menyelimuti dirinya dapat “dibaca” sebagai “panggung” kebaikannya yang belum mendapat tempat dalam wujud perilakunya, begitu sebaliknya saat kebaikan menyelimuti hidupnya, didalamnya ada “kejahatan” yang tidak mendapat tempat dalam wujud perilakunya.
Sahabat ! begitulah dua sisi kehidupan antara yang muncul dan yang tersembunyi, maka saat keduanya muncul dan tenggelam, sesungguhnya ada sisi lain yang menjadi sifat dan karakter khas manusia, yaitu sisi “kecenderungan” pada hal-hal yang baik.
Sisi kecenderungan pada hal-hal yang baik itu bersumber pada “qalbu” tempat bersemayamnya “ruh” yang ditiupkan oleh Yang Maha Kuasa kepada Manusia, oleh karena itu saat kita mengenal “ruh” kita, maka saat itulah kita mengenal Yang Maha Kuasa. Namun sayangnya dalam kehidupan kita sering bertutur qalbu kita menjadi gelap karena tertutup kabut nafsu yang berorientasi pada sifat iblis pada jasad fisik kebinatangan kita, lantas kita tidak dapat mampu mengenal ruh yang bersemayam dalam qalbu tersebut.
Sahabat ! hidup dengan menjalankan hukum-hukum Allah (syariat), memantapkan ketauhidan kepada Allah dan mengasah qalbu untuk mengenal Allah sampai kita mampu “melihat” kehadiranNya atau “merasa” dalam pengawasanNya, maka saat itulah kita hanya melihat SATU SISI DARI SATU MATA UANG yang tegak lurus hanya kepada Yang Maha Segalanya, tidak ada kebaikan dan keburukan, yang ada HANYALAH SIFATNYA YANG MAHA PENGASIH DAN MAHA PENYAYANG.
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
