SUATU HARI DI AUSI (SERI CATATAN TJIPTO SUMADI)
Pelajaran apa yang dapat dipetik dari cerita ini? Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peristiwa boleh sama, tetapi nilai (values) boleh jadi berbeda. ABK (anak berkebutuhan khusus) di Ausi sangatlah memiliki rasa kemandirian yang demikian kuat, sehingga pertolongan yang tanpa diminta menjadi sebuah ketidaknyamanan. Melalui peristiwa itu, ada hikmah yang dapat dipelajari, bahwa saling menghargai kemandirian yang terbangun di antara kita merupakan sebuah keniscayaan, namun memberikan bantuan tanpa diminta dapat diartikan perbuatan yang merendahkan
Oleh Tjipto Sumadi*
SCNEWS.ID-JAKARTA. Ausi atau nama yang sesungguhnya adalah Australia, merupakan negara dengan wilayah benua yang luas dengan jumlah penduduk yang relatif masih terbatas. Jika kita melitas di angkasa Ausi, maka akan tampak daratan yang luas kurang penghuni. Meskipun demikian, negeri Kanguru ini memiliki Pendidikan yang maju. Ketika saya bertanya kepada sahabat yang mengelola pendidikan, ia menjelaskan, pejabat yang mengelola pendidikan di Ausi sangat selektif, tidak sembarang orang bisa menjadi pejabat pendidikan. Hal ini terbukti, dengan reformasi pendidikan yang dilakukan oleh Ausi, dimulai tahun 1960-an dan 30 tahun kemudian Ausi berhasil menunjukkan pendidikan yang sangat berkualitas. Kalaupun boleh dinyatakan kurang sukses adalah upaya Ausi dalam melakukan rekonsiliasi dengan penduduk asli, Aborigin.
Sementara di negeri lain, sudah lebih dari 50 tahun melakukan pengembangan pendidikan, seolah maju-mundur cantik, kian hari tampak makin tak terarah, karena setiap kebijakan selalu mengundang kritik, kemudian diklarifikasi, dan revisi. Pengembangan pendidikan disibukkan oleh klarifikasi, ini menjadi bukti bahwa pendidikan dikelola oleh orang yang berprofesi bukan pendidik. Tentu ini sebuah pembelajaran berharga bagi suatu bangsa.
Kembali ke pembahasan Pendidikan di Ausi, Ausi menganggap penting bahasa-bahasa negara tetangga yang berada di sekitarnya. Sejak SD, peserta didik Ausi sudah belajar Bahasa Indonesia, bahkan ada laboratorium khusus kelas Bahasa Indonesia. Kurikulum Pendidikan Ausi memang menarik, bukan saja bahasa asing yang menjadi bahan pelajaran, tetapi juga bersepeda menjadi salah satu mata-ajar wajib bagi siswa kelas tiga SD. Siswa kelas tiga SD, wajib mengambil pelajaran bersepeda dengan tujuan (1) anak memiliki keterampilan dasar berkendaraan, dan (2) siswa belajar menaati tatatertib berlalu lintas. Dengan demikian, dapat difahami, mengapa warga negara Ausi sangat taat berlalu lintas di jalan raya. Sementara itu fenomena di negara lain, banyak yang sudah dapat berkendaraan tetapi tidak faham berlalu-lintas, sehingga mengakibatkan banyak pelanggaran, bahkan nyawa melayang di jalan raya.
Salah satu pengalaman berkesan bagi penulis adalah saat berkunjung ke sebuah sekolah anak berkebutuhan khusus (ABK). Saat istirahat belajar tiba, semua anak berlari meninggalkan ruang kelas untuk menikmati luasnya halaman sekolah. Sejumlah anak terlihat bermain sepakbola di lapangan dengan rumput halus nan terpelihara. Sesaat kemudian, ada seorang anak perempuan dengan kruk-nya berlari mengejar bola yang keluar dari lapangan. Oleh karena ingin berlari kencang, maka ia pun kehilangan keseimbangan dan jatuh di tanah lapang. Tanpa pikir panjang, penulis membantu meraih tangannya, dengan maksud membantu untuk berdiri. Apa yang terjadi? Anak ini justru menangis. Penulis pun merasa bingung dan meminta bantuan Kepala Sekolah. Kepala Sekolah mendekati anak perempuan itu dan mengajak berbicara. Selanjutnya, sesuatu yang menarik adalah pertanyaan Kepala Sekolah kepada Penulis, “Apa yang Anda lakukan terhadap anak ini?” Penulis katakana, hanya berusaha menolong dan membantu untuk berdiri. Lalu Kepala Sekolah Kembali bertanya. “Apakah Anda mendengar permintaan pertolongan (HELP)?” Kata Penulis, tidak. Lalu, Kepala Sekolah melanjutkan, “Di situlah kesalahan Anda. Di negara Anda membantu tanpa diminta adalah sebuah perbuatan baik. Di sini membantu tanpa permintaan adalah perbuatan yang tidak dibenarkan”.

Pelajaran apa yang dapat dipetik dari cerita ini? Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Peristiwa boleh sama, tetapi nilai (values) boleh jadi berbeda. ABK di Ausi sangatlah memiliki rasa kemandirian yang demikian kuat, sehingga pertolongan yang tanpa diminta menjadi sebuah ketidaknyamanan. Melalui peristiwa itu, ada hikmah yang dapat dipelajari, bahwa saling menghargai kemandirian yang terbangun di antara kita merupakan sebuah keniscayaan, namun memberikan bantuan tanpa diminta dapat diartikan perbuatan yang merendahkan.
Semoga Bermanfaat.
Selamat menjalankan Ibadah Ramadhan.
*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta

Pengalaman yang sangat penuh hikmah, kapan kita bisa membangun karakter manusia seperti negara tetangga kita yah? Dimana pendidikan tidak dicampuri dengan kepentingan politik sehingga menempatkan orang yang tepat untuk mengelola pendidikan, agar pendidikan tepat sasaran sesuai amanat undang-undang.