SUATU HARI DI IZMIR, TURKEY
“Sportivitas merupakan values yang harus dijunjung tinggi, bukan saja pada kompetitif olahraga, tetapi juga pada kompetisi semua jenis dan jenjang persaingan, termasuk perpolitikan. Sportivitas selalu diperlukan, sebab dalam kancah persaingan akan selalu ada tiga kategori aktor yaitu; gladiator, spectator, dan kelompok apathetic”
Oleh Tjipto Sumadi*
SCNEWS.ID-JAKARTA. Pembaca yang Budiman, Kebijakan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka yang digelorakan Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek) telah mendorong mahasiswa yang memiliki kompetensi bahasa asing (baca Inggris), dapat ikut serta belajar di perguruan tinggi luar negeri. Salah seorang mahasiswi kami, dinyatakan lulus dan diterima sebagai peserta kuliah “Dalam Jaringan” atau daring di Ege University Izmir, Turkey. Keberhasilan ini membangkitkan kenangan penulis beberapa tahun silam yang pernah menikmati indahnya Izmir. Tulisan ini juga dimaksudkan untuk memberikan apresiasi kepada Anisa Novia Fridayanti yang berhasil memelopori kuliah daring pada perguruan tinggi di luar negeri.

Izmir adalah sebuah kota metropolitan yang berlokasi di selatan wilayah Turkey, tepatnya di bagian barat kota tua Anatolia. Daerah ini terkenal ke seantero dunia karena di tanah ini pernah terjadi perang yang dikenal dengan strategi politik Kuda Troya. Secara lengkap, kisah perang Troya dapat ditonton dalam film layar lebar yang berkisah tentang epos ini. Kini, untuk memperingati hubungan baik antara Turkey dengan Yunani, telah dibangun Jembatan Perdamaian di pantai Aegea. Namun jangan membayangkan bahwa Jembatan Perdamaian itu sungguh-sungguh menghubungkan antara Izmir dengan Yunani, ini hanya jembatan yang dibangun setengah jadi yang menghadap ke laut Aegea dan mengarah ke Yunani, dan bertuliskan Jembatan Perdamaian Turkey – Yunani. Perjalanan sejarah Izmir memang panjang, awalnya Izmir yang semula bernama Smyrna merupakan daerah kekuasaan Yunani dan Romawi Kuno, namun di era Kekaisaran Ottoman, wilayah ini menjadi milik Turkey (sejak tahun 1415), dan namanya diabadikan menjadi Izmir, hingga sekarang.

Kedatangan penulis dengan rombongan di kota Izmir adalah dalam rangka mengikuti kegiatan Universiade Musim Panas. Universiade merupakan pesta olahraga dunia, seperti Olympiade, namun khusus bagi atlet mahasiswa. Ini pun merupakan kali pertama penulis menjadi Head of Delegation Indonesia pada kancah dunia olahraga mahasiswa. Hal yang menarik di Izmir adalah daerah pantai ini memiliki cuaca yang panas, bahkan di tengah hari pernah mencapai 47 ͦ C, sehingga jalan raya amat sepi dari lalu-lalang manusia. Namun di saat udara mulai bersahabat, kami pun keluar hotel untuk menikmati santapan khas Izmir. Hampir semua jenis makanan yang diolah terasa manis, karena bersalutkan madu murni. Bersama Konjen Indonesia di Izmir, kami merasakan sedapnya makanan di resto yang mengesankan.

Ada fenomena menarik di Izmir, yaitu jumlah perempuan usia produktif lebih banyak daripada jumlah lelakinya. Untuk itu, banyak perempuan Izmir yang terlambat menikah atau mungkin juga memilih tidak menikah. Secara kebetulan, saat penulis studi di Syracuse University New York, co-consultant penulis adalah Deniz yang juga berasal dari Izmir. Deniz juga menceritakan hal yang sama tentang fenomena ini.
Dalam sebuah perpisahan Universiade, tuan rumah Izmir, menyajikan penggalan epik kisah perang Troya. Sebuah kisah peperangan yang melegenda, antara Turkey dengan Yunani. Malam yang diberi nama All Night Long ini mempertemukan seluruh pegiat olahraga mahasiswa. Di sini terjadi perbauran antarbangsa, bebas warna kulit, bebas ras, dan yang ada hanyalah rasa kebersamaan yang dihiasi oleh indahnya letupan kembang api di angkasa.
Pembaca yang Budiman
Hikmah apa yang dapat dipetik dari kisah ini? Pertama, setiap wilayah punya kisah epos yang membanggakan bagi generasi penerusnya, demikian pula Izmir dengan fenomena Kuda Troya-nya. Kedua, sebagaimana seni, olahraga juga dapat menjadi sarana untuk membangun rasa toleransi bagi manusia sejagat, tanpa kecuali, tanpa memandang bulu, tanpa melihat warna kulit, dan tanpa perlu memicingkan sebelah mata terhadap siapapun yang ada di sekitar pesta kehidupan ini. Sesuatu yang ada hanyalah rasa kebersamaan dan kebahagiaan. Ketiga, Univeriade telah menanamkan sportivitas kepada semua peserta, baik atlet, pengurus, maupun penonton. Sportivitas merupakan values yang harus dijunjung tinggi, bukan saja pada kompetitif olahraga, tetapi juga pada kompetisi semua jenis dan jenjang persaingan, termasuk perpolitikan. Sportivitas selalu diperlukan, sebab dalam kancah persaingan akan selalu ada tiga kategori aktor yaitu; gladiator, spectator, dan kelompok apathetic.
Semoga Bermanfaat.
Salam Wisdom Indonesia
*) Mahasiswa Teladan Nasional 1987
Dosen Universitas Negeri Jakarta
