TUKANG DAGING PASAR PAGI BIRUGO (CATATAN SKETSA KEHIDUPAN REZKI KHAINIDAR)

TUKANG DAGING PASAR PAGI BIRUGO

Membeli dalam rangka berkenalan itu menyenangkan”

(Oleh : Rezki Khainidar)

SCNEWS.ID-BUKITTINGGI. Pasar Birugo itu pasar kecil, hanya ada hari Selasa dan Jumat, itupun “setengah hari.” Pukul 12 siang kebanyakan pedagang sudah berbenah, bahkan sudah ada yang meninggalkan lapaknya. Tak lama selepas azan Zuhur, pasar itu sudah berobah kembali jadi jalan ditengah pemukiman tua di belahan Utara kota. Kolam besar disisi jalan, dekat pertigaan membuat tenang, sejuk.

Saya suka ke pasar kecil itu. Bermula dari obrolan adik sepupu yang sering ke pasar yang sama, saya jadi mengamati seorang tukang daging. Satu-satunyanya di pasar itu. Jika saya sampai di pasar sekitar pukul 11, dagangannya biasa tinggal seonggok kecil. Bahkan habis, tapi dia masih berada di lapaknya, dengan tikar pandan alas meja masih membentang dimeja kerjanya. Dia menerusksn ngobrol dengan pedagang bahan yang masih menunggu pembeli. Pasar itu memang ceria karena interaksi antar pedagang, di jalan selebar sekitar 2 meter itu.

Suatu kali saya mulai jadi pembeli, terutama karena ingin mulai mengenal. Membeli dalam rangka berkenalan itu menyenangkan. Tinggal seonggok kecil, sekitar seperempat kilo lebih. Seonggok bagian tubuh sapi, campuran otot, lemak, urat alias penggantung otot ke tulang. Baunya khas daging segar, saya merasa ingin memasak dibuatnya. Begitulah efek bahan yang baik. Tentu yang pertama itu saya tak mengalami antri. Ini menjadi alasan berikut saya berbelanja daging, ingin antri.

Kali kedua, tak begitu pagi dan belum mendekati siang. Dua sisi dari meja segiempatnya yang saya taksir berukuran 1×0,8 meter itu dipenuhi para calon pembeli. Satu sisi lain untuk dirinya dan timbangan gantung, satu lagi di bagian kiri, bersisian dengan pedagang cabe dan bawang. Semua berdiri tenang. Penjual daging bicara dengan pembeli yang daging pilihannya sedang dipotong, atau ditimbang. Kadang disertai saran jenis masakan yang cocok. Saya mulai antri, dengan berdiri rapat dibelakang salah seorang yang mepet ke pinggir meja. Begitu pembeli itu pergi, saya menggantikan posisinya. Sayapun sudah berada dipinggir meja. Pergantian-pergantian seperti ini berlangsung tenang.

Ibaratnya nonton siaran langsung, saya sudah di posisi VVIP. Tukang daging ini berusia 40an tampaknya. Pakaiannya “casual,” agak beda dengan tukang daging di pasar besar Bukittinggi. Kurang berkesan tukang daging. Di pasar besar, tukang daging tampil berkharisma, seperti supir bis antar kota, yang mesin bisnya keluaran Mercedes-Benz.

Selesai berurusan dengan satu pelanggan, ia akan bertanya pada salah satu pengantri. Pertanyaannya, duluan mana pelanggan itu dengan satu pelanggan lain yang ditunjuknya. Begitulah berulang kali. Hanya yang antri mendapatkan layanan.

Pernah seseorang sambil lewat meneriakkan pesanan daging rendang beberapa kilo. Sembari berjalan, calon pembeli itu mengatakan akan belanja yang lain dulu, dan nanti kembali mengambil daging pesanannya. Orang ini berkomunikasi dengan tukang daging, seakan cuma dia berdua berada di pasar itu. Permintaan orang ditolak dengan santai beserta penjelasan, ia tak mungkin memenuhi permintaan begitu; permintaan para pengantri akan jenis dan berat daging tak bisa diperkirakan. Hanya dengan ikut antri menghadapi bersama tukang daging bekerja, para pengantri bisa memilih dan mendapatkan jenis daging dengan berat yang diinginkan.

Adakalanya yang sudah antri khawatir, jenis daging yang diinginkan habis sebelum gilirannya tiba. Jika calon pembeli ini mengemukakan kekhawatirannya, tukang daging akan memeriksa persediaan, atau mengajak dua atau lebih pelanggan seminat berunding, membuka peluang agar semua bisa mendapat bagian. Kalaupun tidak berhasil, ada kerelaan untuk dapat jenis daging lain.

Sekali waktu ada juga yang batal. Mungkin menghitung peluang dirinya ada diurutan ke 7 atau delapan, dari yang masih menunggu. Setidaknya makan waktu 30 menit. Mungkin juga karena tampak daging yang tersisa tak sesuai rencana masaknya, atau entahlah. Yang jelas, sesama pelanggan damai dan cukup rileks, berbincang ringan mengomentari aneka bagian sapi yang enak untuk dendeng, rendang, “cancang,” “sampadeh,” “kalio,” sup. Enam kata terakhir kalimat sebelumnya, semua nama aneka masakan.

Beberapa kali saya berbelanja sedikit daging, hanya untuk ikut menikmati suasana itu, bau segar daging bagus, antri sambil nonton atraksi potong daging, dan menyimak obrolan akrab sesama pembeli. Nikmat mengamati suasana berbeda kepentingan, yang terkelola dengan baik.

Eh, Selasa minggu ini, saya dapat sekitar 7 ons daging punuk, daging bulat di punggung atas sapi, kelihatan cocok untuk acara memasak ajakan sepupu saya itu. Kami berencana bikin kalio daging, pakai kentang kecil2 berdiameter 2-3 cm. Kalio? Itu nama masakan sejenis kari, dengan santan kental. Supaya segar, kalio ditemani acar ketimun dan bawang, yang diberi racikan jeruk nipis segar.

Bukittinggi, 8 Juni 2021.

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini