URGENSI NGAJI WISDOM BAGIAN 1
“Dari sinilah point penting yang merubah orientasi kiprah secangkir kopi seribu inspirasi, untuk ikut merubah “paradigma” kehidupan yang kembali ber-orientasi pada keseimbangan dan perlakukan yang setara dan kasih sayang, dengan kesadaran saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Berarti kita memerlukan “wisdom” sebagai suatu kebajikan hidup yang saling membantu dan bekerjasama untuk menyelamatkan umat dan bumi kita ini, tapi kemudian kalau hanya sekedar “wisdom” yang diajarkan maka ia hanya bersifat nilai-nilai pedoman atau tuntutan yang belum bisa mencapai derajat operasional menghadapi tantangan jaman. Kita berarti memerlukan “wisdom” yang disamping teoritik tetapi juga aplikatif, sehingga wisdom tidak hanya berada dalam tataran teroritis, tapi juga berada dalam tataran praktis, teori dan praktis inilah yang saya sebut wisdom ilmiah dan wisdom amaliah”.
Oleh : Syaifudin
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Sahabat secangkir kopi seribu inspirasi, kurang lebih satu setengah bulan ini saya “mengembara” menjadi musyafir kehidupan dengan mendengarkan, menonton dan membaca dari berbagai sumber, baik itu yang tertulis, tertayang dan nampak dalam kehidupan keseharian kita dengan tema besarnya adalah potret “filsafat kehidupan” dengan segala macam aliran dan penampakannya. Dari sinilah kemudian saya terfikir untuk mengagas “ikon mimbar” ngaji wisdom ala Banjar, yang merubah orientasi konsep acara “secangkir kopi seribu inspirasi” dari monolog, talk show dan artikel populer menuju pada kegiatan “ngaji” dan “amal”.
Ngaji wisdom dimaksudkan untuk mengatasi “kegelisahan hidup” manusia modern yang lahir sejak era “pencerahan” pengetahuan dengan mengedepankan akal, dan harus kita akui keberhasilannya dalam wujud berkembang pesatnya teknologi informasi sekarang ini, sehingga membawa kemudahan kehidupan manusia. Namun disisi lain ekses penggunaan akal ini menjadikan kehidupan terasa “kosong”, karena adanya kegelisahan pada diri manusia itu sendiri terhadap dampak negatif kemajuan yang ditimbulkannya. Perhatikanlah adanya ketakutan terhadap perang, penyakit, kerusakan alam dan bertebarannya konten negatif dimedia sosial yang tidak ber-adab (akhlak).
Renungkan dan rasakanlah, betapa kita terjebak dalam model berfikir dan pendekatan subjek dan objek transaksional, hubungan kemanusiaan didasari atas pamrih transaksional, alam diperlakukan sebagai “wanita penghibur” untuk dikeruk keuntungan dan kesenangan kita belaka, disharmonisasi dunia semakin nampak, perebutan pengaruh dan kuasa atas dunia semakin nampak khsusnya terlihat dalam perang di Ukraina.
Didepan mata kita sendiri atau disekitar kita telah dipertontonkan perebutan kekuasaan politik ditingkat nasional dan lokal dilakukan dengan “mengahalalkan” segala cara, munculnya kelompok “cebong dan kampret”, memperalat simbol keagamaan bahkan melibatkan tokoh agama, munculnya “ustad” dengan gaya provokasi yang meresahkan dan mengadu doma, munculnya aliran dan faham yang radikal dengan gaya “Barat” dan “Timur Tengah”, yang bukan tidak mungkin lama-kelamaan akan mendegradasikan banua dan bangsa kita kehilangan identitasnya sebagai orang banua dan Indonesia.
Dari kekhatiran atau tepatnya keprihatinan terhadap kondisi-kondisi tersebut, maka kita mesti berbuat sesuatu (fikir saya), tapi apa yang bisa kita perbuat sebagai “orang biasa” ?, saat memikirkan dan merenungkan hal inilah dalam suatu kesempatan saya menemani isteri pada kegiatan disatu sudut kota Banjarmasin yang padat penduduknya melaksanakan kegiatan “memberikan bekal keterampilan agar perempuan dan anak bisa berdaya dalam mengisi kehidupan yang “keras”.
Dari sinilah point penting yang merubah orientasi kiprah secangkir kopi seribu inspirasi, untuk ikut merubah “paradigma” kehidupan yang kembali ber-orientasi pada keseimbangan dan perlakukan yang setara dan kasih sayang, dengan kesadaran saling ketergantungan dan saling mempengaruhi. Berarti kita memerlukan “wisdom” sebagai suatu kebajikan hidup yang saling membantu dan bekerjasama untuk menyelamatkan umat dan bumi kita ini, tapi kemudian kalau hanya sekedar “wisdom” yang diajarkan maka ia hanya bersifat nilai-nilai pedoman atau tuntutan yang belum bisa mencapai derajat operasional menghadapi tantangan jaman. Kita berarti memerlukan “wisdom” yang disamping teoritik tetapi juga aplikatif, sehingga wisdom tidak hanya berada dalam tataran teroritis, tapi juga berada dalam tataran praktis, teori dan praktis inilah yang saya sebut wisdom ilmiah dan wisdom amaliah.
Kalau begitu secangkir kopi seribu inspirasi mesti melakukan kajian yang bersifat keilmuan namun disampaikan secara “gembira” dengan pokok-pokok bahasan pendek di media sosial sampai kajian mendalam secara offline yang nanti tempatnya di Ruang Ngaji Yayasan Banua Media Utama yang kini masih proses pembangunannya. dan ber-iringan dengan kajian di atas, dilaksanakan juga “amaliah” dalam bentuk bantuan pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitasnya di bidang kehidupan dan kegiatan mandiri dan bekerjasama dengan lembaga terkait untuk mengedukasi serta mempraktekan nilai-nilai wisdom itu dalam kehidupan sehari-hari, sehingga nilai-nilai wisdom itu tidak hanya bernilai sebagai “nilai tuntutan” tapi nilai yang dipraktekan untuk menjawab tantangan atau permasalahan kehidupan sehari-hari.
Menyadari akan luasnya nilai-nilai wisdom itu, maka ia bisa masuk keseluruh aspek kehidupan masyarakat, dan karenanya semua sektor bisa masuk di dalamnya, baik itu ekonomi, sosial, pendidikan, politik, budaya dan agama, yang tentu goalnya bukan semata penanaman nilai nilai wisdom, tapi bagaimana nilai-nilai wisdom itu dapat menjawab permasalahan pada setiap bidang tersebut. Oleh karena itu akan menjadikan ngaji wisdom itu menjadi solusi yang riil, dan tidak lagi diasumsikan sebagai “nasihat” saja, atau dengan kata lain problema masyarakat mesti dijawab dengan dua hal sekaligus, yaitu perubahan paradigma dan perubahan perilaku dengan memberikan sarananya untuk perubahan tersebut.
Dari sinilah terbayang dalam benak saya ngaji wisdom ala banjar ini akan melibatklan seluruh stake holder dengan berbagai bidang ilmu dan profesi dalam kegiatannya, seperti finacial wisdom, intrepreneur wisdom, political wisdom, culture wisdom, education wisdom, environment wisdom, profesional wisdom dan lain-lain serta kajian filsafat serta agama (tasauf) yang menjadi pondasinya. Hasil kajian dan aplikasinya kemudian dipublihs ke jaringan media yang tersedia dan terkoneksi langsung dan tidak langsung, dengan scnews.id, dutatv, dutatv.com dan berbagai flatform media sosial. Hasilnya insyaAllah berwujud menebarkan cahaya kebaikan di dunia digital.

Secara khusus dengan melihat perkembangan yang ada dimedia sosial ini, maka menjadi tanggungjawab kita bersama untuk masuk dengan cara membuat konten-konten edukasi dan kontek kebaikan lainnya, sehingga seperti kebajikan para “wali songo” yang mampu merubah substansi tradisi menjadi bernilai “kebaikan” pada masyarakat saat itu, maka kitapun bisa berkarya untuk “meng”wisdom”kan media sosial yang menjadi tradisi pada era sekarang.
Semoga kita bisa mewujudkan niat baik, fikiran baik dan tindakan baik sebagai sumbangsih kita untuk “alam kehidupan” bersama ini. Meminjam istilah Seyyed Hossein Nasr dengan konsep “SCIENTIA SACRA” saatnya pengetahuan dan tindakan kita kembalikan ke esensi atau pokoknya dan disanalah ternyata kita ini berasal dari “keyakinan kebaikan yang sama” hanya manifestasinya saja yang berbeda. Berkenan dukungan, peran dan bantuan sahabat semuanya. Amin…..
Salam secangkir kopi seribu inspirasi.
