YOLD (SERI CATATAN TJIPTO SUMADI)

YOLD

“…bahwa setiap orang berkemungkinan menjadi tua, tetapi tidak semua orang dapat memilih tetap menjadi pribadi yang berjiwa muda, meskipun sudah berusia tua. Berjiwa muda tidak harus selalu diisi dengan kehidupan yang berfoya-foya, tetapi dapat memilih pola hidup taqarrub ilallah. Mendekatkan diri kepada Allah swt, Tuhan YMK., dengan cara bersuka-ria, tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang diyakini, dan yang tak kalah pentingnya adalah to see the world…”

Oleh : Tjipto Sumadi*

SCNEWS.ID-JAKARTA. Kisah tentang keinginan untuk hidup “seribu tahun lagi” atau bahkan bisa memasuki “keabadian hidup” di dunia, boleh jadi menjadi angan-angan dan mimpi bagi setiap orang. Kisah keinginan untuk hidup abadi di dunia, sudah menggelora sejak masa Firaun berkuasa hingga Qorun yang banyak punya harta.

Bahkan di era modern saat ini, definisi “tua” seolah dihindari, karena tua adalah renta, payah, tak berdaya, dan seolah harus dikasihani. Dalam konteks ini, hadirlah terminologi YOLD. YOLD merupakan perpaduan definisi antara YOUNG dengan OLD. Dari dua vocabularies itu lahirlah vocab baru, yaitu YOUNG – OLD, diakronimkan menjadi YOLD.

Menjadi tua adalah niscaya, tetapi tetap berjiwa muda adalah pilihan hidup. Jika tua identik dengan serba kekurangan, sebaliknya YOLD adalah orang tua yang memilih menjadi tetap berpenampilan muda. Untuk itu, perlu tetap menjaga penampilan, berpakaian rapi, menyenagkan, bersahabat, cool, calm, confidence, and responsible.

Hasil kerja bertahun-tahun dan tabungan yang terkumpul, dapat dijadikan “modal” untuk terus membuat hati riang dan jiwa yang tenang. Dari perasaan riang dan jiwa yang tenang itulah, seseorang dapat menjalani hidup dengan merasa lebih aman dan nyaman.

YOLD tidak pernah berharap “bantuan” fisik, psikis, bahkan finansial dari anak-anaknya atau sahabatnya. Sebab banyak tamsil, sepasang orangtua dapat membesarkan anaknya hingga sukses, tetapi lima pasang anak dan menantunya belum tentu dapat merawat kedua orangtua dan mertuanya.

You are yourself, Engkau adalah Dirimu Sendiri. Pernyataan itu seolah konsep yang berasal dari western. Padahal konsep kehidupan itu adalah konsep mendasar dalam kita suci bagi muslimin. Sejenak tengoklah, Surat At Tahrim ayat (6): Ya ayyuhallazina amanụ qu anfusakum wa ahlikum naraw…. Dari pesan ayat pada kitab suci itu, tampak jelas bahwa, bagi orang yang beriman, menjaga dirinya (terlebih dahulu, lalu) menjaga keluarganya. Jadi, jaga dan selamatkan dirimu, lalu selanjutnya jaga dan selamatkan keluargamu.

Hikmah yang dapat dipetik dari tulisan ini adalah dalam konteks hubungan YOLD dengan ayat di atas yaitu, bahwa setiap orang berkemungkinan menjadi tua, tetapi tidak semua orang dapat memilih tetap menjadi pribadi yang berjiwa muda, meskipun sudah berusia tua. Berjiwa muda tidak harus selalu diisi dengan kehidupan yang berfoya-foya, tetapi dapat memilih pola hidup taqarrub ilallah. Mendekatkan diri kepada Allah swt, Tuhan YMK., dengan cara bersuka-ria, tetap menjalankan ibadah sesuai keyakinan yang diyakini, dan yang tak kalah pentingnya adalah to see the world; Jalan-jalan Keliling Dunia,

Wallahu ‘alam bi sawab.

*) Mawadan 1987

*) Dosen Universitas Negeri Jakarta

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini