19.6 C
New York
Senin, Agustus 2, 2021

Buy now

TANDA BATAS PADA PERBATASAN

TANDA BATAS PADA PERBATASAN

“Kemampuan mengenal tanda batas perbatasan kebaikan dengan keburukan adalah memasuki wilayah “hidayah” dari Allah, karena ada banyak manusia yang dibutakan dan ditulikan oleh Yang Kuasa,  sehingga ia tidak bisa “mengenali” lagi mana area yang benar dan mana area yang salah dalam kehidupan ini, atau kebaikan dan keburukan itu dipandang sama tanpa ada tanda batasnya. Oleh karena itu kita selalu berdoa agar Yang Maha Kuasa menunjukan kepada kita bahwa “kebaikan itu adalah kebaikan dan diberi kekuatan untuk dapat melaksanakannya, begitu sebaliknya agar kita ditunjukan bahwa yang salah itu salah dan diberikan kekuatan kepada kita untuk menghindarinya”.

(Syaifudin)

SCNEWS.ID-Banjarmasin. Seorang sahabat muda mampir di warung sksi, beliau tidak lain adalah Yahya Ahmad Zein Dekan Fakultas Hukum Universitas Borneo Tarakan Kalimantan Utara, terjadi pembicaraan yang asik terhadap masalah “hukum perbatasan”, karena sebagai wilayah yang berbatasan dengan Malaysia, maka Fakultas Hukum Universitas Borneo mengembangkan kajian “hukum Perbatasan” yang menjadi keunggulan kompetitif Fakultas Hukum yang dipimpinnya untuk masa jabatan yang kedua kali. Tentu asiknya pembicaraan juga sebagai pelepas kangen antara junior dengan senior yang lama tidak ketemu, yang mana dulunya saya sendiri pernah 2 kali mengunjungi Kota Tarakan saat Kota Tarakan masih berada dalam wilayah Provinsi Kalimantan Timur.

Sahabat ! Kota Tarakan di Pulau Nunukan Kalimantan Utara wilayahnya memang berbatasan langsung dengan Kota Tawau di Negara Bagian Sabah Malaysia, yang mana warga Tawau dan Warga Tarakan begitu mudah keluar masuk melalui jalur darat dan laut, sehingga bagaimana suatu tatanan nilai dan norma hukum yang berlaku antar negara diperbatasan ini menjadi menarik untuk dikaji, baik yang dilingkupi oleh hukum “kebiasaan” yang hidup hasil interaksi mereka yang berbeda negara ini, juga dari sisi kajian hukum bilateral sampai kajian dalam regim hukum internasional public dan privat.

Sahabat ! kali ini saya tidak membahas bagaimana kajian hukum perbatasan yang unik itu, akan tetapi terinspirasi dengan melayangkan fikiran ke banyak sisi lain dalam kehidupan. Bukankah saat kita merenungkan istilah “perbatasan” ini terdapat kondisi objektif yang melingkupinya, sehingga pada saat orang bicara masalah perbatasan, maka membawa kepada alur fikir tertentu yang menjadi keniscayaan dalam istilah “perbatasan” ini.

Sahabat ! yang namanya perbatasan pasti ada tanda yang menjadi batas dari perbatasan itu. Kalau itu berkaitan dengan wilayah tetorial di daratan, maka batas itu dikasih tanda seperti layaknya kita memberi tanda pada batas hak tanah yang kita miliki. Kalau batas itu di laut, maka menurut konvensi PBB tahun 1982 , tandanya adalah ukuran 12 mil dari pantai. Kalau perbatasan itu diudara, maka yang salah satu teori tanda batasnya adalah GSO atau geo stationery orbit, yaitu batas angkasa yang kalau benda ditempatkan maka benda itu mengambang atau tidak jatuh.

Sahabat !, kalau perbatasan itu terkait dengan warna, maka tanda batasnya adalah sampai dimana ujung dari warna tersebut, seperti warna hitam dan putih, maka batasnya titik akhir dari hitam atau putih tersebut, dan saat bertemunya pada titik yang membatasinya, maka terlihat jelas tanda mana area putih dan mana area hitam.

Sahabat ! kalau perbatasan itu terkait dengan nilai perbuatan yang benar dan salah, maka tandanya adalah getaran Nurani yang paling dalam, sehingga saat terjadi perilaku yang tidak benar, maka Nurani itu memberi sinyal peringatan, seperti yang dilansir oleh Sigmund Freud dengan “super ego” yang selalu menjadi mahkamah saat “id” mau diwujudkan melalui “ego”, dengan memberikan pertimbangan “benar dan salahnya” untuk diwujudkan atau tidak diwujudkan perilaku manusia itu.

Sahabat ! uniknya terdapat irisan antara setiap batas itu, sehingga yang kita sebut tanda batas itu bisa menjadi area perpaduan dan bisa pula menjadi area yang “mulur” “mungkret”, artinya bisa sempit dan bisa luas. Oleh karena itu dalam perbatasan darat kita mengenal “garis demarkasi” sebagai suatu zona antara antara batas wilayah yang satu dengan wilayah lainnya. Pada batas antara hitam dan putih dikenal daerah abu-abu, artinya warna yang sudah pudar atau tidak lagi bisa disebut hitam dan tidak juga putih, oleh karena itu “istilah abu-abu” sering dipakai untuk menggambarkan suatu kondisi yang mengambang, tidak jelas keberpihakannya, kesana iya dan kesini juga iya dan seterusnya.

Sahabat ! yang lebih unik adalah saat melihat tanda batas antara “yang baik” dengan “yang buruk” atau “yang halal dengan yang haram”, sesungguhnya terdapat perbatasan yang sangat sempit, sehingga sulit melihat garisnya, karena keduanya tidak membentuk daerah demarkasi atau area abu-abu, melainkan disebut seperti “minyak” dan “air” yang saling menolak untuk bercampur.  Oleh karena itulah dalam pandangan hukum islam, kalaupun terdapat tanda yang disebut “syubhat/syubuhat” atau terlihat samar antara yang halal dan yang haram, maka hal tersebut mesti ditinggalkan atau tidak dikerjakan.

Sahabat ! kabar baiknya tanda pembatas ini sangat berguna bagi kita yang menginginkan perpindahan atau meloncat atau hijrah dari satu keadaan atau kondisi yang tidak baik kepada keadaan atau kondisi yang baik.  Oleh karena itu mengengenal tanda batas perbatasan adalah sangat penting agar kita bisa menentukan pijakan di wilayah kebenaran atau kebaikan dalam kehidupan ini. Artinya untuk beribah menjadi baik, maka kita mulai dengan mengenal tanda batasnya dan kemudian meloncat ke area kebaikan tersebut, hal ini akan sulit untuk melangkah kepada area kebaikan kalau kita tidak mengenal tanda batas dari perbatasan antara yang buik dengan buruk itu.

Sahabat ! kemampuan mengenal tanda batas perbatasan kebaikan dengan keburukan adalah memasuki wilayah “hidayah” dari Allah, karena ada banyak manusia yang dibutakan dan ditulikan oleh Yang Kuasa,  sehingga ia tidak bisa “mengenali” lagi mana area yang benar dan mana area yang salah dalam kehidupan ini, atau kebaikan dan keburukan itu dipandang sama tanpa ada tanda batasnya. Oleh karena itu kita selalu berdoa agar Yang Maha Kuasa menunjukan kepada kita bahwa “kebaikan itu adalah kebaikan dan diberi kekuatan untuk dapat melaksanakannya, begitu sebaliknya agar kita ditunjukan bahwa yang salah itu salah dan diberikan kekuatan kepada kita untuk menghindarinya”.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi

Redaksi SKSI
Founder Yayasan Banua Media Utama, Pimpinan Umum/Dewan Redaksi dutatv, dutatv.com dan scnews.id, Penulis & host Secangkir Kopi Seribu Inspirasi

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

22,044FansSuka
2,882PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -spot_img

Latest Articles