CINTA NAN BIJAK (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

CINTA NAN BIJAK
Oleh : IBG Dharma Putra

“Terluka karena cinta pun tidak boleh diabaikan. Luka yang segera dirawat akan pulih, tetapi luka yang dibiarkan dapat berubah menjadi jaringan parut. Bekasnya tak hilang, menimbulkan parut pengingat pahit getir disertai pembelajarannya.
Kedewasaan bukanlah hidup tanpa luka tetapi kemampuan mengobati luka tanpa kehilangan kemampuan untuk mencintai.”

SCNEWS.ID – BANJARMASIN. Cinta merupakan hadiah yang membuat berani bahkan rela menyerahkan waktu, pikiran, harap bahkan jiwa dan raga kepadanya. Gairah berisi
penerimaan, ketulusan berbentuk pengorbanan, tersebut tidak selalu bertemu dengan perasaan yang sama tapi dimanfaatkan, dimanipulasi dan bisa menjadi hubungan toxic, berakhir siksaan tidak terbayangkan.

Untuk itu berwaspada lah pada perasaan cinta, jika cinta melekat maka tahi kucing wajib tetap tahi kucing, karena tidak hanya melibatkan rasa tapi dilengkapi komunikasi, kompromi, komitmen disertai kesadaran bahwa komunikasi berwajah seribu rupa, bisa diam, responsif ataupun reaktif beserta kelebihan dan kelemahannya.

Perbedaan utama komunikasi diam, reaktif dan responsif terletak pada kesadaran serta tujuan penyampaian pesan. Komunikasi diam berfokus menahan informasi, reaktif dikendalikan emosi sesaat, sementara responsif dilakukan secara sadar, objektif tetapi bertujuan mencari solusi. Di balik semua bedanya, semua komunikasi itu, menginginkan perasaan aman, damai, dipenuhi sayang dan keharmonisan.

Komunikasi yang baik bukan sekadar berbicara, tapi menghadirkan pengertian, supaya dua hati saling memahami, bertumbuh bersama di dalam kepedulian yang saling menghormati, melewati suka dan duka samudra kehidupan menuju ke pelabuhan bahagia.

Beda yang bertujuan serupa tak selalu berujung pada asa sehingga dalam perjalanannya, cinta selayaknya ditemani oleh akal dan intuisi, yang berguna untuk menyaring informasi, agar suara yang terdengar mampu diketahui kebenarannya dan yang tampak nyata dapat dilihat kenyataan yang sesungguhnya.

Informasi bak sebuah jalan, mampu mengantar pada kebenaran tetapi bisa juga menyesatkan. Oleh sebab itulah maka kesadaran intuitif perlu dipelihara, sehingga tidak perlu menutup telinga terhadap berbagai informasi. Bahkan pada saat tertentu diperlukan keberanian mengambil jarak yang tepat agar terlihat lebih utuh, lebih jernih, lebih lengkap, dan lebih akurat.

Pengambilan jarak, untuk melihat lebih lengkap bak melihat lokasi dari atas helikopter, menjadi tahu gambaran menyeluruh dari sebab maupun akibat. Hal yang sangat perlu dilakukan karena kedekatan berlebihan bisa membuat hilangnya kejernihan dalam menilai. Empati serta simpati tercampur baur, hingga tak lagi adil dan memilih ekstrim membela atau menyerang, yang serupa buruknya.

Kehidupan mengajarkan bahwa kasar maupun halus, menyimpan kemungkinan baik dan buruk. Parutan kasar mampu membuat pekerjaan lebih mudah, sedang lumut halus mempunyai potensi menggelincirkan. Tampilan mesra serta lembut, disertai bicara halus atau kerasnya sikap tidak bisa dijadikan ukuran tunggal kualitas hati. Yang menentukan tidak bentuk luarnya tapi nilai yang dikandungnya.

Terluka karena cinta pun tidak boleh diabaikan. Luka yang segera dirawat akan pulih, tetapi luka yang dibiarkan dapat berubah menjadi jaringan parut. Bekasnya tak hilang, menimbulkan parut pengingat pahit getir disertai pembelajarannya.
Kedewasaan bukanlah hidup tanpa luka tetapi kemampuan mengobati luka tanpa kehilangan kemampuan untuk mencintai.

Mungkin karena itu, kesederhanaan, membawa dekat pada Tuhan. Hidup sederhana cenderung lebih mudah menyadari akan ada nya kekuatan yang melampaui dirinya, asal tidak disertai oleh kebodohan, karena hilangnya akal dan analisa, membawa Tuhan ke ruangan pengertian maha sempit dan dogmatis dan dengan benak begitu, menjadi mudah dimanfaatkan oleh kepentingan.

Di sinilah budaya, khususnya sastra berperan istimewa. Sastra tak menggurui tapi menyentuh hati. Mengajak merenung, menginspirasi tanpa memaksa, mencerdaskan tanpa merasa paling benar. Sebab perubahan yang paling mendalam bukanlah perubahan yang dipaksa tetapi yang tumbuh dari kesadaran.

Pada akhirnya, cinta yang bijak bukanlah cinta yang membutakan, tetapi cinta yang membuat hati terbuka, perpaduan tulus dengan kearifan, berani dengan waspada serta sayang dengan kejernihan berpikir. Cinta yang berdoa tak untuk selalu dicintai tetapi untuk bisa, selalu berada di dalam rahmat Nya

Banjarmasin
27062026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini