SUARA NURANIKU (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

SUARA NURANIKU
Oleh : IBG Dharma Putra

“Mengingatkan bermakna serupa dengan kritik, merupakan kewajiban, berarti pelaksananya tak buruk bahkan baik, sebab kewajiban mutlak dan harus dilakukan, dibanding hak yang masih bisa tak diminta. Hakikinya, kritik merupakan wujud dari cinta sangat dewasa, tidak hanya memuja tetapi disertai dengan niat menjaga.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Suara nuraniku berteriak di saat ruang digital di isi oleh riuhnya kebisingan perdebatan tentang keinginan mencabut status ASN, Aparatur Sipil Negara dari seorang dosen, hanya karena kerap mengkritik pemerintah. Keinginan itu, tak hanya bernuansa administrasi tetapi pertanda adanya cara memandang kuasa sebagai hal yang tidak boleh di koreksi, padahal kritik bukan ancaman, tetapi tanda nurani yang masih hidup.

Keinginan membungkam kritik merupakan ironi dipenuhi tragedi, dari orang orang yang tak mau tahu tentang makna pemerintahan serta punya kecenderungan tidak menunjukkan patriotisme, yang hanya menonjolkan kepentingan kelompok tanpa peduli pada kebersamaan nasionalisme. Mulutnya bisa saja berbuih karena bicara cinta tanah air namun nuraninya tidak begitu, karena di saat bersamaan, ingin mematikan suara yang berupaya menjaga arah bangsa.

Posisi pemimpin dan anggota masyarakatnya di dalam pemerintahan, akan mudah dipahamkan jika di analogi sebagai shalat berjamaah, yang mengenal keberadaan seorang imam sebagai pemimpin, sekaligus berarti yang lainnya adalah makmum sebagai pengikut. Berjamaah adalah kebersamaan yang akan melahirkan kekuatan berlipat jika dibandingkan usaha sendiri sendiri, sebuah sinergi, satu di tambah satu bukan dua, tetapi melahirkan daya yang lebih besar, karena adanya keselarasan gerak serta tujuan.

Imam itu manusia, bisa salah dan jika situasi itu terjadi maka makmum tak boleh diam dan wajib mengingatkan, supaya shalat tetap benar serta tujuan ibadah tetap tercapai. Itulah makna dari kebersamaan, bahwa kepatuhan tidak dogmatis buta tetapi setia yang disertai dengan tanggung jawab moral.

Mengikuti pemimpin tanpa mengingatkan ketika salah, serupa dengan pembiaran pada arah dan tujuan salah dan itu berarti bukan pengikut yang baik, karena syarat pengikut yang baik adalah berani melayani dan berperan dalam kebaikan, berani bertanggung jawab serta mengingatkan dan berani mengambil langkah moral.

Mengingatkan bermakna serupa dengan kritik, merupakan kewajiban, berarti pelaksananya tak buruk bahkan baik, sebab kewajiban mutlak dan harus dilakukan, dibanding hak yang masih bisa tak diminta. Hakikinya, kritik merupakan wujud dari cinta sangat dewasa, tidak hanya memuja tetapi disertai dengan niat menjaga.

Kritik yang lahir dari niat baik adalah penjaga keseimbangan bangsa, sehingga segala upaya untuk membungkam kritik harus ditolak, sebab bangsa besar bukan anti kritik tapi menjadikan kritik sebagai cermin untuk perbaikan. Bila kritik dianggap ancaman maka bertumbuhlah budaya diam karena takut, kepatuhan dogmatis, hingga bangsa kehilangan daya koreksi. Gerakan para pemimpin tak jelas bahkan lupa pada tujuannya, yang berujung pada negara gagal.

Penyampai kritik bak pemberi cahaya di gelap gulitanya makam, mencegah berjalan ke jurang, sehingga membungkamnya berarti mematikan pelita penerang jalan bersama. Menganjurkan untuk menghukumnya, memperlakukan seperti musuh negara, merupakan kejahatan subversif. Tindakan subversif bisa diganjar dihukum mati.

Sarannya hanya satu, buanglah ide yang punya sifat subversif itu karena dalam jangka panjang akan merusak dan menghancurkan NKRI.

Banjarmasin
26042026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini