PERADABAN YANG BERDIRI SETINGGI LANGIT, LALU RUNTUH SETENANG SENJA

Peradaban yang Berdiri Setinggi Langit, Lalu Runtuh Setenang Senja

Bagian II — Ketika Cahaya Mulai Meredup

Oleh : Robensjah Sjachran

“Namun … tidak ada peradaban yang abadi.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Setelah mencapai puncak kejayaan—terutama pada abad ke-10—Andalusia mulai menghadapi tantangan yang justru datang dari dalam.

Setelah para pemimpin kuat wafat, kesatuan mulai retak. Andalusia terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang dikenal sebagai Muluk al-Thawaif (Taifa).

Setiap wilayah berdiri sendiri. Setiap penguasa ingin mempertahankan kekuasaan

Masalahnya bukan hanya perpecahan—tetapi ketiadaan arah bersama.

Dalam beberapa kasus, penguasa Muslim bahkan meminta bantuan kerajaan Kristen untuk melawan sesama Muslim. Sebuah ironi sejarah: kekuatan dari luar justru masuk melalui pintu yang dibuka dari dalam.

Sementara itu, di utara, kerajaan-kerajaan Kristen mulai bangkit. Castilla dan Aragon—yang awalnya terpisah—bersatu melalui pernikahan Ferdinand (atau dikenal juga Fernando el Católico) dan Isabella.

Di sini sejarah seperti memberi pelajaran sederhana tapi keras: Yang satu terpecah menjadi banyak. Yang banyak justru menjadi satu. Dan hampir selalu, yang bersatu akan lebih kuat daripada yang tercerai.

Gerakan Reconquista pun berlangsung semakin intens. Wilayah demi wilayah Andalusia jatuh.Hingga tersisa satu benteng terakhir: Granada.

Saya berdiri di Alhambra, memandang keindahan yang luar biasa. Di sana terasa sesuatu yang berbeda—bukan hanya megah, tetapi juga… rapuh. Seolah keindahan itu tahu bahwa waktunya hampir habis.

Tahun 1492, Granada jatuh.

Sultan terakhir, Boabdil alias Abu Abdullah Muhammad XII, menyerahkan kota itu. Saat meninggalkan Granada, ia dikabarkan menangis. Ibunya —Aisyah al-Hurra—berkata: “Jangan menangis seperti perempuan atas kerajaan yang tidak mampu kau pertahankan seperti laki-laki.” Kalimat itu seperti menutup sebuah bab panjang sejarah.

Setelah itu, kaum Muslim dan Yahudi menghadapi tekanan besar—dipaksa, diusir, atau mengalami penganiayaan. Andalusia yang dulu dikenal sebagai ruang toleransi berubah menjadi ruang eksklusivitas.

Dan di situlah saya menyadari sesuatu: Andalusia tidak runtuh dalam satu pertempuran besar. Ia runtuh dalam proses panjang—retakan demi retakan.

Saya meninggalkan Andalusia dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya kagum… tetapi juga merenung.

Di tempat ini, saya tidak hanya melihat sejarah—saya melihat cermin. Bahwa dalam kehidupan, dalam masyarakat, bahkan dalam hukum, yang menghancurkan bukan selalu konflik besar, tetapi seringkali ketidakkonsistenan terhadap nilai yang disepakati bersama.

Itu bagai hukum kehidupan: Peradaban, seperti kontrak, tidak runtuh saat ditandatangani
tetapi saat perlahan dilanggar, diabaikan, atau ditafsirkan sesuka hati.

Dan Andalusia telah mengajarkan satu hal yang sangat sederhana, tetapi dalam maknanya: bahwa yang menjaga peradaban bukan hanya suatu kekuatan, melainkan konsistensi kesetiaan pada nilai yang membuatnya berdiri sejak awal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini