HARMONI (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

HARMONI
Oleh : IBG Dharma Putra

“… hidup adalah proses perbaikan, untuk semakin membaik dan keberhasilan adalah ujung sakitnya perjuangan. Tidak pernah ada sukses tanpa proses disertai kerja kerasnya. Jalan panjang dan berliku yang dipenuhi onak duri berbagai hambatan maupun tantangan harus dilalui sebelum sampai kepada keberhasilan. Memberi gambaran, banyaknya dalam keseharian yang wajib diterima agar hati nyaman dan jiwa tenang.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Jika pernah mampir di Bandara Ngurah Rai Bali, kemungkinan pernah membaca tulisan sangat mencolok di dinding gedung kedatangan, tulisan tersebut berbunyi, Tri Hita Karana, yang berarti kehidupan selaras dengan lingkungan, manusia serta Yang Maha Kuasa, yang bermakna sama dengan istilah Sangkan Paraning Dumadi dalam budaya Jawa, yaitu kesadaran bahwa hidup tak hanya dijalani, tetapi wajib dipahami, dimaknai, sebagai harmoni semesta dengan penerimaan tulus pada nasib dan takdir.

Tri Hita Karana atau Sangkan Paraning Dumadi, terasa memiliki kemiripan makna dengan 3 nilai hidup dalam kebudayaan Jepang, yang sering terbaca di berbagai platform media sosial, yaitu Ikigai ( menjalani hidup dengan tujuan dan nilai ) Kaizen ( lakukan perbaikan berkelanjutan ) serta Wabi Sabi ( temukan indah pada tak sempurna ) bagai tiga nada dalam satu harmoni kehidupan.

Ikigai adalah pertemuan harmonis antara yang dicintai, dikuasai, dibutuhkan dan biaya untuk menyambung hidup sehingga mampu menjadi pemberi makna keberadaan manusia. Memberi penjelas tidak hanya tentang tujuan tetapi juga alasan hidup, bahwa hidup tak hanya kebetulan tetapi panggilan, hingga keberhasilan tak hanya diukur melalui sukses duniawi tapi lebih luas dan lebih hakiki.

Ikagai dihadirkan didalam keseharian kehidupan dengan nafas Kaizen yang mengajarkan bahwa perubahan besar tak dari lompatan drastis, tapi dari kumpulan langkah kecil yang konsisten bak tetesan air yang mampu melubangi batu. Warna yang dominannya adalah kesabaran, ketekunan dan semangat pantang menyerah.

Dalam kerangka pikir diatas, maka hidup adalah proses perbaikan, untuk semakin membaik dan keberhasilan adalah ujung sakitnya perjuangan. Tidak pernah ada sukses tanpa proses disertai kerja kerasnya. Jalan panjang dan berliku yang dipenuhi onak duri berbagai hambatan maupun tantangan harus dilalui sebelum sampai kepada keberhasilan. Memberi gambaran, banyaknya dalam keseharian yang wajib diterima agar hati nyaman dan jiwa tenang.

Penerimaan atas proses tak sempurna, disebut Wabi Sabi. Bahwa keindahan tidak selalu hadir simetris sempurna tapi dalam keterbatasan dan bahagia ditemukan jika berdamai dengan luka dan kekurangannya. Wabi Sabi membuat tetap gembira saat upaya paripurna, berujung hasil yang biasa saja. Ada pesan bahwa kewajiban hanya berupaya keras dan hasilnya diserahkan pada yang kuasa untuk diterima dengan tulus dan ikhlas.

Secara utuh dan maknawi, Ikigai memberi arah, Kaizen memberi gerak, Wabi Sabi pemberi rasa tenang, sehingga hidup tak menjadi perlombaan mencapai sempurna tapi perjalanan kesadaran, untuk selalu berupaya terbaik sekaligus mampu menerima jika hasil akhirnya, walau dinilai tidak sebanding dengan kerasnya perjuangan.

Pada akhirnya, harmoni bukanlah keadaan yang datang sendiri tetapi kesadaran yang dipilih dan dirawat setiap hari. Harmoni lahir dari arah yang jelas, langkah yang tekun dan hati yang dengan lapang menerima ketidaksempurnaan. Di dalam harmoni, kehidupan menemukan makna, bahwa bahagia tidak bergantung kepada sempurnanya hasil, tetapi pada proses utuh, dijalani berteman niat baik, keikhlasan, kesabaran disertai dengan kerinduan pada rahmat dari Nya

Banjarmasin
07052026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini