
SPIRITUALITAS CINTA
Oleh : IBG Dharma Putra
“…spiritualitas cinta tidak berbicara tentang cinta tapi tentang penyucian hati, karena hati bersih tidak hanya mampu mencintai, tetapi mampu menempatkan cinta di tempatnya yang tepat, tak menjadikan cinta sebagai berhala yang menguasai hidup, tetapi sebagai amanah yang dipelihara dengan kejujuran, kesabaran, pengorbanan, tanggung jawab.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Cinta adalah rasa suka atau kasih sayang yang sangat mendalam dan ikatan emosi yang kuat, yang membuat merasa terikat, peduli, percaya, ingin melindungi, menghargai, mendukung satu sama lain dalam jangka panjang.
Dalam otak yang sedang jatuh cinta ditemukan hormon dopamin (rasa senang) serta oksitosin (rasa aman serta ikatan), itulah mungkin yang membuat cinta berjuta makna hingga sebaiknya dicari dalam diri agar semua yang terbaca tidak timbulkan ruwet.
Perasaan cinta sangat sulit diukur. Orang dapat mengaku mencintai, tetapi tindakannya bertolak belakang, sehingga masuk akal jika cinta bukan semata emosi tapi akhlak yang bisa dibuktikan melalui amal, kesetiaan, keadilan, kesabaran dan amanah.
Secara spiritual tidak pernah ditemukan cerita tentang cinta yang menggebu tetapi upaya agar bisa dicintai Tuhannya. Cinta diwujudkan dalam bentuk kasih sayang,komitmen, kepedulian dan pengorbanan. Spiritualisme tidak menonjolkan cinta romantis atau emosional tetapi cinta yang tampil sebagai energi jiwa sehingga wajib punya arah yang benar
Spiritualitas tidak mengagungkan cinta, dalam upayanya untuk tidak terjebak dalam budaya sentimental, yang menganggap semua yang terlahir dari cinta pasti benar hingga mengarah pada pemujaan selain pada Tuhan. Karenanya cinta wajib dikendalikan oleh hukum, etika, dan tanggung jawab.
Dengan begitu maka cinta kepada pasangan dibingkai oleh pernikahan, cinta kepada anak dibingkai oleh pendidikan, cinta kepada orang tua dibingkai oleh bakti, cinta kepada sesama dibingkai oleh keadilan. Ujung ujungnya, cinta tidak menjadi kekuatan yang liar tapi menjadi kekuatan pembangun peradaban.
Spiritualitas tak mengajarkan untuk mencintai, karena tak ingin dipahami hanya sebagai ajaran tentang perasaan, tapi menunjukkan untuk bisa dicintai, sebagai dorongan pembentuk diri agar layak menerima cinta. Perubahan pandangan ini mengangkat cinta dari sekadar hasrat menjadi proses penyucian diri.
Spiritualitas tak mengabaikan tapi memurnikan maknanya, agar tidak diawali dari gejolak rasa, tapi dari orientasi hati yang menjelmakan cinta dalam akhlak, tanggung jawab maupun ibadah. Cinta ditempatkan sebagai kekuatan spiritual yang harus dituntun oleh wahyu supaya menjadi jalan menuju kemuliaan manusia.
Mungkin itulah yang menjadi sebab spiritualitas cinta tidak berbicara tentang cinta tapi tentang penyucian hati, karena hati bersih tidak hanya mampu mencintai, tetapi mampu menempatkan cinta di tempatnya yang tepat, tak menjadikan cinta sebagai berhala yang menguasai hidup, tetapi sebagai amanah yang dipelihara dengan kejujuran, kesabaran, pengorbanan, tanggung jawab.
Ketika cinta telah begitu, tunduk kepada wahyu, berpijak pada akhlak, berbuah kemaslahatan, maka cinta akan berubah menjadi cahaya yang menuntun setiap langkah menuju kedewasaan jiwa. Cinta yang dikenang bukan dari bisik kata romantis nan mesra yang mendesah di telinga tapi dari luasnya kasih sayang yang dihadirkan, kokohnya keadilan yang ditegakkannya, serta manfaat yang ditinggalkannya.
Puncak tertinggi spiritualitas cinta, bukan pada ucapan, I Love You, dengan berbagai kesadaran dan pemahaman nurani, kejujuran dan tulusnya, tapi ketika hidup membuat Tuhanmu bersabda, bahwa kamu layak menerima cintaNya. Puncak itu adalah rahmatNya.
Makasar
03082026







