KRISTAL CINTA DARI AYAH (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

KRISTAL CINTA DARI AYAH
Oleh : IBG Dharma Putra

“Semakin mengenangnya, semakin sadar bahwa penghormatanku kepada ayah, tak hanya pada kisah hidupnya, tetapi pada inspirasi yang mulai kupahami saat ilmu pengetahuan berkembang, bahwa di luar takdir semesta,umur panjang juga ditentukan cara kita memperlakukan tubuh yang dititipkan kepada kita.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Aku ingin bercerita tentang seorang lelaki yang paling lama tinggal di dalam hatiku. Lelaki yang tak pernah meminta dipuja, tetapi justru karena kesederhanaan hidupnya, menjadi begitu agung di mataku. Lelaki itu bukan seorang tokoh besar, namanya tak ada dalam sejarah, karena dirinya hanyalah seorang ayah, tapi bagiku merupakan sejarah itu sendiri. Kristal cintanya mewarnai seluruh sejarah kehidupanku.

Hidupnya, seolah meledek kematian, tak karena takut atau benci pada kehidupan tetapi karena kehidupan yang telah sangat sering mengujinya hingga rasa sakit seakan menjadi sahabat yang dikenalnya lebih dulu dibanding perasaan takut. Mungkin karena dia kehilangan ayahnya, ketika baru berusia dua tahun. Serangan jantung telah merenggut lelaki yang menjadi tulang punggung keluarga, meninggalkan seorang istri yang tidak bekerja beserta delapan orang anak yang harus dibesarkannya.

Sejak itu, kehidupan tak pernah murah baginya, kesulitan demi kesulitan yang datang berganti, tapi tak menjadikannya penurut pada keadaan, tak membuatnya menjadi pengeluh, sebaliknya menjadi pemberontak yang sunyi, melawan tak adil, tidak dengan berteriak tetapi dengan teguh yang konsisten. Memilih tetap berdiri tegak saat kehidupan berusaha membuatnya berlutut.

Kulihat nyata, adanya keberanian berbeda pada dirinya, lelaki yang tidak mencari bahaya, tetapi pasti takkan pernah lari dari bahaya, dihadapi dan dihadangnya dengan mata menyala, dada terbuka dan semangat membara dalam misteri diamnya. Keberanian yang justru membuat rona semburat bahagia di usia senjanya. Pesonanya teduh dalam wajah yang tenang, tak gemerlap mewah tapi damai, seolah luka kehidupan telah berdamai karena waktu. Wajah itu yang selalu kurindukan dan kudamba.

Semakin mengenangnya, semakin sadar bahwa penghormatanku kepada ayah, tak hanya pada kisah hidupnya, tetapi pada inspirasi yang mulai kupahami saat ilmu pengetahuan berkembang, bahwa di luar takdir semesta,umur panjang juga ditentukan cara kita memperlakukan tubuh yang dititipkan kepada kita.

Ada peran mitokondria, organel bermembran ganda, berfungsi sebagai pembangkit tenaga utama pada sel. Organel ini mengubah nutrisi dari makanan dan oksigen menjadi energi kimia berupa adenosin trifosfat (ATP) melalui proses respirasi seluler.

Seiring bertambahnya usia, jumlah serta mutu mitokondria memang menurun sehingga tenaga berkurang, pemulihan melambat disertai risiko penyakit yang meningkat, tetapi kabar baiknya, bahkan pada usia lanjut, mitokondria masih bisa dipelihara dan dirangsang supaya tetap sehat melalui kebiasaan hidup yang baik.

Saat ini, diketahui bahwa kesehatan mitokondria terutama dijaga melalui empat kebiasaan yaitu berolahraga teratur, tidur cukup, mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan melakukannya secara konsisten. Tidak perlu langsung berlari jauh. Sebab setiap perjalanan panjang selalu diawali satu langkah kecil yang pertama. Itulah sebabnya maka olahraga yang ringan tapi rutin sering kali lebih bermanfaat daripada olahraga yang berat namun jarang dilakukan.

Sebuah plot twist, bermula dari kristal cinta jadi mitokondria. Kristal cinta sebagai pembangkit energi. Ayahku pembangkit energi untuk hidup yang baik, karena telah mencontohkan selama hidup pada anak anaknya. Menjadi tua memang tak dapat dihindari, tapi menjadi rapuh ternyata tak selalu merupakan takdir. Tubuh masih dapat dipelihara melalui langkah langkah sederhana, bergerak setiap hari, makan bergizi seimbang, minum yang cukup, beristirahat dengan baik, lalu mengulanginya dengan disiplin sepanjang waktu.

Kristal cinta yang menginspirasi hidup sehat, tak hanya untuk memperpanjang usia, tapi supaya setiap tahun tambahan hidup tetap diisi tenaga, kemandirian, dan kegembiraan. Sekaligus mulai memahami bahwa mewarisi ayah tidak sekedar mewarisi nama keluarga, tapi seharusnya lebih ingin mewarisi kesederhanaan menjalani hari. keberanian menghadapi hidup, ketegaran saat keadaan tidak berpihak serta caranya menua. Menjadi tua dengan sehat tak hanya soal otot yang kuat atau mitokondria yang tetap bekerja, tapi hati yang berdamai dengan kehidupan.

Saat rambut memutih serta langkah melambat, hormatku padanya, tak dilakukan dengan urai air mata tapi meneruskan nilai hidupnya yang dipenuhi kasih. Aku akan belajar terus darinya sampai ajal menjemputku, dan di saat bertemu nanti, akan kukatakan sepenuh haru bahagiaku, Ayah, aku telah berusaha menempuh jalan yang kau tunjukkan. Terima kasih atas semua berani yang kau ajarkan, tak hanya karena takut mati tapi juga karena cinta pada hidup yang benar.

Banjarmasin
30062026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini