Kasihan atau Salut, Mana Sikap Yang Benar ?
Mengasihani bukanlah mengasihi. Mengasihani adalah sikap memandang seseorang tak berdaya sehingga masalah hidup orang itu hendak diambil alih. Orang yang mengasihani bisa terbebani rasa bersalah, dan memang itulah yang disasar sandiwara para “pengemis profesional.” Sebaliknya mengasihi, berempati memandang seseorang mempunyai daya. Mereka yang mengasihi, berempati tertarik hendak memberi dukungan agar kekuatan orang itu menjadi lebih besar. Ketika ia berhasil dia akan merasa lebih berharga, karena keberhasilannya adalah hasil perjuangannya.
(Rezki Khainidar)
SCNEWS.ID-BUKITTINGGI. Berulangkali saya teringat pertemuan sekitar 10 tahun lalu itu, karena ada sesuatu yang ingin saya ceritakan. Saat itu, sudah lama sekali kami, sekitar 20 tahun, tak berjumpa. Salah seorang mengambil inisiatif agar makan siang dirumahnya, dengan info tambahan, menyediakan beberapa makanan kenangan masa kuliah. Singkat cerita, begitu berjumpa bercengkramalah kami seketika, dan sambung bersambung aneka cerita lucu masa kuliah. Kawan kami, sang tuan rumah minta waktu sedikit untuk mengucapkan selamat datang serta selamat berjumpa. Dalam semacam kata sambutan itu, ia sampaikan sepotong kisah hidupnya, yang menurut dia menyedihkan. Air muka dan kata-katanya menghiba, sedikit air mata tampak tergenang di mata, ia menyebut “Ayah saya hanya seorang sopir truk, dengan sebelas anak. Tapi beliau mampu menafkahi kami sampai saya bisa seperti sekarang.” Seperti sekarang yang dia maksud adalah capaiannya sebagai seorang dokter spesialis di bidangnya dengan aset yang nilainya sudah sangat besar. Sebesar aset kebanyakan kalangan menengah atas di negeri ini.
Makanan kenangan yang disajikan, diantaranya adalah ikan laut kecil yang digoreng kering dilumuri tumisan cabe merah yang sedap. Ikan laut ini juga menjadi media penyampaian kesedihan kawan ini. Katanya itulah sajian yang paling sering ia dapat dirumahnya dulu; makna yang saya tangkap, ia ingin sampaikan, itu ikan murah. Jika ditambahi, hanya ikan murah itu yang mampu disediakan sebagai lauk keluarga itu.
Ada yang kurang dapat saya terima dari kesedihannya, sehingga berkali-kali saya menilai ulang dan menggali pandangan dari sudut pandang saya sendiri. Bagi saya, ceritanya justru mengagumkan. Membuat saya terbayang hebatnya keluarga itu. Saya bahkan iri dengan khayalan saya tentang keluarga itu dan suasana harian mereka. Sejauh khayalan saya mampu, saya membayangkan keluarga yang secara finansial terbatas, tapi berlimpah semangat hidup. Seingat saya semasa kuliah, kawan ini seorang yang tekun, meski rasa rendah dirinya sering membayang dalam sikapnya namun ia tampak penuh energi dalam belajar. Jika ada diskusi, sebagian besar ia aktif.
Bisa dilihat sekarang, jejak ketekunannya itu: ia seorang klinisi ahli terkemuka di bidang kedokteran, melakukan sekian puluh kali pembedahan organ penting, jantung, dan berhasil. Saya membayangkan sang ayah, betapa semangat, ketika putranya ini kuliah di kedokteran, lulus sebagai dokter umum dan sekarang: seorang superspesialis terkemuka. Dan, soal ikan laut itu, bagaimana mungkin kita ingkari bahwa ikan laut ini sumber nutrisi bergizi. Justru karena murah, dan mudah didapat, bisa sering terhidang dirumah mereka. Bagi saya itu ikan lezat dan bergizi. Memang, ikan kecil itu murah di kota dia tinggal karena berlimpah. Dari segi rasa itu ikan mewah. Jika sudah sampai dikota lain, di kota asal saya yang jauh dari laut, sudah lain pula ceritanya, selain terkenal enak, juga mahal.
Sudut pandang mengasihani pejuang tidak asing ditengah kita. Kenapa kita cenderung mengasihani seorang pejuang, tinimbang menghargai? Mengasihani menutup mata terhadap kenyataan bahwa seseorang yang menghadapi kesulitan itu sudah berhasil bertahan, bahkan mengatasi masalah-masalah berat. Bisa jadi yang dikasihani mencapai kemampuan mental yang lebih kuat dari yang mengasihani.
Sebaliknya menghargai membuka mata terhadap pembelajaran yang terjadi pada diri seseorang ketika ia menghadapi keadaan-keadaan genting kehidupan. Setiap orang dapat saling belajar dari pengalaman hidup yang dihargai. Dan, setiap orang dapat belajar memanipulasi dari posisi dikasihani. Seperti sebagian pengemis yang asetnya bisa lebih banyak daripada yang memberinya uang. Bukan cerita baru ada pengemis yang bersandiwara sebagai orang miskin papa di siang hari, di malam hari tidur di salah satu rumah permanennya. Dia melanjutkan mengemis meski putra-putrinya kuliah di perguruan tinggi swasta terkemuka.
Mengasihani bukanlah mengasihi. Mengasihani adalah sikap memandang seseorang tak berdaya sehingga masalah hidup orang itu hendak diambil alih. Orang yang mengasihani bisa terbebani rasa bersalah, dan memang itulah yang disasar sandiwara para “pengemis profesional.” Sebaliknya mengasihi, berempati memandang seseorang mempunyai daya. Mereka yang mengasihi, berempati tertarik hendak memberi dukungan agar kekuatan orang itu menjadi lebih besar. Ketika ia berhasil dia akan merasa lebih berharga, karena keberhasilannya adalah hasil perjuangannya.
Bukittingi, 4 November 2021
