KAGUM, CINTA DAN ABADI (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

KAGUM, CINTA DAN ABADI
Oleh : IBG Dharma Putra

“Kekaguman sering menjadi pintu menuju cinta sejati, jika dipertahankan dengan komunikasi, kompromi dan komitmen setia. Cinta melampaui kekaguman karena berisi gairah, ketulusan dan penerimaan. Cinta itu setara kekaguman seribu pesona sedang kekaguman adalah katalisator cinta sebagai dasar mendekat, saling kenal dan termotivasi menjadi versi terbaik pasangannya.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Jika sempat merenung dan mencoba melihat perjalanan hidup, mungkin akan terpikir bahwa kekaguman adalah salah satu cara dari Sang Pencipta untuk mengabadikan ciptaanNya. Kekaguman, dapat terjadi karena keindahan fisik, keluhuran sosial, kebijakan moral maupun kognisi berbentuk ide filosofis.

Kekaguman pada hakekatnya merupakan emosi kompleks sebagai hasil keterpaduan heran dan rasa hormat, saat berhadapan dengan sesuatu yang luar biasa. Berisikan perasaan keagungan, kebutuhan menyesuaikan diri, pengecilan ego, keterikatan, sensasi fisik dan fokus karena ada perubahan persepsi waktu.

Kekaguman tak selalu berwujud sukacita, tetapi bisa berupa takjub diikuti perasaan takut karena ancaman seperti ketika melihat bencana alam. Dengan begitu kagum mampu memberi inspirasi positif jika dipicu keindahan, keluhuran, megah, atau kedamaian tetapi bisa bersifat negatif jika dipicu oleh takut, rasa terancam serta bisa juga menimbulkan perasaan tercampur aduk, seperti menunggu kelahiran.

Kekaguman sering menjadi pintu menuju cinta sejati, jika dipertahankan dengan komunikasi, kompromi dan komitmen setia. Cinta melampaui kekaguman karena berisi gairah, ketulusan dan penerimaan. Cinta itu setara kekaguman seribu pesona sedang kekaguman adalah katalisator cinta sebagai dasar mendekat, saling kenal dan termotivasi menjadi versi terbaik pasangannya.

Artinya, kekaguman adalah percikan api yang menyalakan hubungan bak panasnya bara api, menjaga hubungan tetap hangat seumur hidup sehingga menjadi cinta sejati. Dengan dimensi seperti itu, menjadi masuk akal jika rasa cinta, ataupun kekaguman, dapat menurunkan stres, menjadikan sabar dan memicu kedermawanan.

Seharusnya juga disepakati secara logis, bahwa kekaguman tidak berkeinginan menghancurkan, hanya ingin memperbaiki ataupun dalam situasi yang paling buruk, hanya ingin menghindarinya untuk berbagai alasan tapi tak menghancurkan. Kekaguman yang sehat, melahirkan keinginan menjaga, merawat, melindungi dan memuliakan, setidaknya tetap berdoa terbaik baginya.

Pada akhirnya, rasa kagum,cinta dan keabadian adalah rangkaian perasaan saling bertaut pada dalam misteri kehidupan. Kekaguman membuat kesadaran akan kebesaran alam semesta, cinta mengajarkan ketulusan penerimaan, sedangkan keabadian lahir ketika kenangan, pengaruh dan nilai dari sesuatu yang dicintai tetap dan selalu hidup melampaui ruang dan waktu.

Mungkin dengan cara seperti itu, Causa Prima Sang Pencipta, menjaga ciptaanNya agar tidak lekang oleh zaman, yakni melalui hati manusia yang mampu mengagumi, mencintai dan terus mengenang dengan penuh makna.

Banjarmasin
17052026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini