INFLASI DAN KICK OFF (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

INFLASI DAN KICK OFF

“Sampai saat ini, saya masih beranggapan bahwa gaya hidup muncul karena ulah orang yang layak dan ditirukan oleh orang yang tanggung tetapi mempunyai banyak teman”.

Oleh : IBG Dharma Putra

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Belakangan ini, sangat sering saya dengan, kata kick off, sama seringnya mendengar kata pencanangan diwaktu lalu. Saking seringnya, mendengar bahasa ini, sampai terlupa kalau sedang berada di negeri tri sakti yang mencita citakan sebuah bangsa berdaulat, mandiri dan berkepribadian. Cita cita luhur yang tak akan pernah terwujud jika kata kick off lebih dipakai dibandingkan dengan kata mengawali, sebab pilihan kata tersebut, bisa berarti adanya rasa rendah diri dan malu menunjukkan kepribadian bangsanya sendiri. Absennya kepribadian akan membuat kedaulatan serta kemandirian sulit juga dicapai karena ketiga unsur dari tri sakti, pada hakekatnya saling mempengaruhi.

Kata lain yang juga banyak saya baca dalam berbagai pemberitaan saat ini adalah inflasi, sampai sampai sebagai orang awam, saya mencoba untuk mempelajari serta memahami kata tersebut secara mudah dan saya dapat bahwa tanda mudah untuk melihat adanya kenaikan inflasi adalah dengan mendengarkan omelan emak emak yang datang dari pasar, karena berbekal uang sebanyak biasanya tapi pulangnya hanya bisa membawa lebih sedikit bahan belanjaan. Inflasi bisa dipakai sebagai public alarm, bahwa telah terjadi kelangkaan barang, atau setidaknya menandakan bahwa disaat jumlah uang beredar seperti biasanya, ternyata jumlah barang beredar berkurang dibandingkan biasanya dan terjadi penurunan nilai uang secara relatif.

Inflasi perlu dikendalikan karena inflasi yang terkendali dapat berarti menjaga daya beli masyarakat. Pengendaliannya bisa dilakukan dengan memastikan pasokan bahan belanja sampai dipasar, artinya produksinya cukup, distribusinya lancar, tak ada penimbunan baik sengaja maupun tidak, sehingga harganya, bisa tetap terjangkau oleh isi kantong rakyat. Tentunya banyak ahli ekonomi, yang mampu mengambil keputusan pengendaliannya.

Secara konsepsi, dapat diduga akan terjadi dan ditemukan banyak persamaan situasi pada kondisi inflasi dengan kondisi pengunaan kata kick off. Keduanya dapat menjadi sebab dari turunnya sebuah nilai, pada inflasi terjadi penurunan nilai uang sedangkan pada situasi penggunaan kata kick off, terjadi penurunan nilai karakter. Nilai karakter terbukti menurun karena disaat bangsa ini, masuk ke pergaulan internasional dengan membawa karakternya seperti biasa ternyata penghargaan bangsa lain terhadapnya, semakin berkurang.

Secara operasionalisasi, analogi diatas akan sangat sulit terbukti sebab penghargaan terhadap sebuah bangsa tidak melulu akibat karakternya yang terjaga tetapi tergantung dari berbagai aspek. Kondisi tersebut dapat memberi gambaran bahwa menyimpulkan penggunaan kata kick off untuk menganti kata mengawali sebagai penyebab tergerusnya karakter, bangsa, memerlukan bukti yang tidak mudah didapat.

Walaupun ada kesenjangan konsep dengan kenyataan pembuktiannya secara operasional, sikap untuk gagah gagahan menganti bahasa promosi dengan menggunakan bahasa bule, perlu dicermati untuk tidak dilakukan lagi. Kehidupan bergaya kulit putih, dengan mulut yang setiap saat, dihiasi oleh potongan kata asing dengan kudapan makanan sampah dalam keseharian, tidak cocok dengan kulit sawo matang, sekaligus tidak sehat. Mungkin saja ada bagian bangsa yang terbiasa begitu karena kebiasaan sewaktu sekolah atau kerja di luar negeri tetapi jika ditiru secara tanggung akan bisa menjadi kebiasaan buruk dalam masyarakat. Sampai saat ini, saya masih beranggapan bahwa gaya hidup muncul karena ulah orang yang layak dan ditirukan oleh orang yang tanggung tetapi mempunyai banyak teman.

Karena itu, berhentilah menggunakan bahasa asing dan gunakan bahasa sendiri, selain lebih gampang dipahami, juga agar mulut kita tidak gampang keseleo.

Banjarmasin
12072022

Terbaru

spot_img

Related Stories

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini