
CINTA DAN PENGORBANAN
Oleh : IBG Dharma Putra
“Menghidupkan kembali api cinta, bukan proses mudah tetapi merupakan jalan teramat berat yang menuntut introspeksi, refleksi diri secara jujur, melatih empati sebagai dasar komunikasi asertif, dibarengi kesabaran, pengampunan dan keberanian memperbaiki diri. Tujuannya supaya bisa dipetakan masalah secara objektif, mencari jalan terbaik untuk menuntaskannya.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Hubungan manusia selalu lahir dari pertemuan, tak hanya pertemuan dua hati tapi perjumpaan nilai rasa, asa dan pilihan yang tidak sederhana atau bersifat hitam putih saja. Karena itu, cinta tidak cukup diukur dari kuatnya rasa, melainkan juga dari kesediaan menempatkan rasa tersebut dalam koridor kebenaran. Ada batasan disertai pengorbanan dalam hubungan cinta sehingga tak layak dinilai menggunakan kacamata kuda, selanjutnya dihakimi tanpa menilai intensi serta atensinya.
Intensi berkaitan dengan niat terdalam, berakar pada rasa sayang atau cinta, sedangkan atensi dilihat dari fokus perhatian, kesediaan sisihkan kepentingan lain demi pasangan. Intensi serta atensi menyatu tidak terpisahkan dalam bentuk kerelaan berkorban atau pengorbanan. Secara tak langsung, menunjukkan persetujuan bahwa cinta memang mengandung gairah, penerimaan dan ketulusan.
Secara faktual dapat berarti bahwa hubungan manusia dapat dibedakan dalam empat model, yaitu, hubungan legal dengan intensi dan atensi baik, legal dengan intensi dan atensinya buruk, illegal dengan intensi dan atensinya baik, illegal dilatari intensi serta atensi buruk. Empat model yang wajib disikapi benar karena menjadi ujian yang mampu ciptakan dikotomi konyol, antara pernikahan oleh penghulu dengan cinta ciptaan Tuhan setara pertentangan nasib dengan takdir.
Hubungan yang ideal tentulah hubungan legal didasari niat tulus dan mampu saling berkorban. Hubungan seperti ini, patut dijaga supaya tetap abadi. Pernikahan didasari oleh cinta harusnya dibuat abadi dengan komitmen, komunikasi dan kompromi. Hubungan legal yang lain, semisal pernikahan yang didorong berdasar materi dan hanya pelampiasan nafsu saja, wajib diperbaiki sedangkan hubungan ilegal apapun alasannya, wajib segera diakhiri, bahkan harus dihindari.
Persoalan muncul, jika hubungan legal, semata demi gengsi, diniatkan mengejar status ataupun kekayaan, tentu tak disertai kerelaan berkorban. Jika hubungan tersebut berbentuk pernikahan, maka dipastikan bersifat toksik, dipenuhi konflik dan kecewa, berpotensi perceraian, berdampak psikologis buruk lintas generasi, pada anak dan cucu.
Persoalan lebih rumit muncul jika pernikahan itu, ditumpangi oleh hubungan lain yang ilegal, yang dilandasi cinta, tanpa sandiwara serta kerelaan berkorban. Model perselingkuhan paling hebat, paling kuat dan paling merusak, karena dapat membuat tak peduli aturan sosial, membuatnya teramat sulit untuk dihentikan dan akan mampu melahirkan luka peradaban. Hubungan seperti ini, hanya bisa terhenti dengan menghidupkan cinta yang telah hilang dari pernikahan.
Perselingkuhan hebat, tidak semata diawali oleh kerusakan moral, tetapi karena masalah rumah tangga yang tidak pernah selesai. Selingkuh mungkin dapat menghadirkan rasa dipahami, diterima, atau dicintai, tapi jika dibangun di atas pelanggaran amanah serta ikatan suci, maka rasa yang indah itu berisiko melahirkan luka yang jauh lebih besar.
Luka terjadi tidak karena cinta yang salah tetapi karena cara dan tempat yang keliru. Cinta tidak boleh diperlakukan begitu, karena kehormatan cinta membuatnya tidak boleh dijadikan alasan melanggar batas. Karenanya, ketika hubungan legal kehilangan kehangatan, tugas utama para pelakunya tidak mencari pelarian tapi berusaha menghidupkan api cinta yang mulai meredup.
Menghidupkan kembali api cinta, bukan proses mudah tetapi merupakan jalan teramat berat yang menuntut introspeksi, refleksi diri secara jujur, melatih empati sebagai dasar komunikasi asertif, dibarengi kesabaran, pengampunan dan keberanian memperbaiki diri. Tujuannya supaya bisa dipetakan masalah secara objektif, mencari jalan terbaik untuk menuntaskannya.
Ingatlah, Hubungan sehat adalah kemampuan menyelaraskan cinta dengan tanggung jawab, kasih sayang dengan amanah, serta kebebasan dengan kebijaksanaan, sebab cinta dewasa tak hanya ingin memiliki, tetapi juga menjaga, tidak hanya ingin membahagiakan diri sendiri, tetapi juga menghindarkan pasangannya dari derita.
Secara spiritual, kehebatan cinta, tidak dinilai dari seringnya mengikuti keinginan hati, tapi dari kesanggupannya mengikuti kebenaran. Pecinta yang hebat bukan karena tak pernah gagal tapi karena mampu bangkit dari gagal yang dialami. Kehebatan cinta, membuat hubungan temukan kesuciannya bersamaan dengan manusia yang temukan kemuliaannya.
Banjarmasin
30052026







