MENGHIDUPKAN HIKMAH (IHYA UL-HIKMAH) (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

MENGHIDUPKAN HIKMAH (IHYA UL-HIKMAH)

Oleh : Syaifudin

“Kemampuan melihat yang tidak Nampak (gaib) dari yang Nampak (peristewa) inilah mengarahkan kepada sifat “fana” nya kita pada kekuatan Sang Maha Pengatur Kehidupan, sehingga kita mampu meraih anugerah “hikmah” dalam menjalani kejadian, kondisi atau keadaan apapun dalam kehidupan.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Seiring dengan bertambahnya usia terdapat “jargon” factor U yang menunjukan terdapat suatu kondisi alami terhadap kehidupan, yaitu menuanya dari sisi fisik yang ditandai secara relative dari menurunnya fungsi organ-organ fisik, seperti penglihatan, pendengaran, daya ingat dan daya kekuatan kaki, tangan, pinggang dan seterusnya, ditambah lagi berbagai kenormalan baru pada detak jantung, tekanan darah, pencernaan dan seterusnya, yang dalam Bahasa singkatnya “fisik kita berada dalam phase penuaan”.

Dalam masa phase penuaan fisik ini, kegiatan “touring” dari satu tempat ketempat lain, berwisata ke berbagai daerah dan negara, berhadir pada berbagai macam acara dan kegiatan, sudah semakin terbatas, apalagi adanya gangguan pada lutut kaki seperti yang saya alami yang menjadikan berjalan sudah tidak normal lagi, tidak bisa lama berdiri dan berjalan  lagi akan menyebabkan nyeri. Tapi semua itu bukanlah sebagai suatu keluhan terhadap keadaan, karena fisik kita memang sudah masanya menurun secara relative pada masing-masing kita yang tentu tidak sama jenis dan bobotnya, akan tetapi kesamaannya “kegiatan fisik kita” tidak sehebat saat kita muda dulu.

Dari sinilah kemudian secara reflektif memunculkan renungan baru atau mainan baru dalam kehidupan, yaitu menjadi sering melakukan “touring” perjalanan ke dalam diri, berkontemplasi terhadap pergulatan segala suatu yang ada dalam diri kita sendiri, dan ternyata begitu banyak sudut “pemandangan” yang bisa diceritakan, dari bagaimana perangkat yang kita miliki, berupa perasaan, fikiran dan qalbu, para pembisik sejati, yaitu nafsu, setan dan ruh, yang semuanya mempunyai turunan atau pasukan masing-masing, sehingga dalam diri kita selalu terjadi “peperangan” antara sisi gelap dan terang, sisi kebaikan dan kejahatan, antara “nur” dengan “nar” yang tidak pernah akan berakhir sampai pada akhir kehidupan.

Dengan kata lain saat touring ini, kita akan menyaksikan “peperangan yang tiada kahir” yang terhdang kita memenangkan yang satu dan mengalahkan yang lain, dan sebaliknya. Namun kabar baiknya peperaangan ini justeru menjadikan hidup dinamis ibarat ujian ada yang lulus dan ada yang gagal, sehingga datang silih berganti jatuh bangun, dan yang dicatat adalah bagaimana kita bangun dengan kesadaran akan kekalahan itu untuk menuju kepada kemenangan.

Suatu kemenangan dalam pertempuran dalam diri tersebut terbebas dari kondisi babak belur atau berdarah darahnya perjuangan kita dalam bergulat dari berbagai bisikan bisikan itu, akan tetapi bagaimana kemampuan kita untuk melihat sesuatu yang tidak Nampak dibalik yang Nampak, sesuatu yang ada dirasa dibalik yang kita rasakan, sesuatu yang mendahului adanya sebelum kejadian itu terjadi, sesuatu yang berada diakhir kejadian sebelum kejadian itu berakhir, sesuatu yang ada dibalik yang ada, sesuatu yang  meliputi semua peristewa yang terjadi tersebut.

Kemampuan melihat yang tidak Nampak (gaib) dari yang Nampak (peristewa) inilah mengarahkan kepada sifat “fana” nya kita pada kekuatan Sang Maha Pengatur Kehidupan, sehingga kita mampu meraih anugerah “hikmah” dalam menjalani kejadian, kondisi atau keadaan apapun dalam kehidupan.

Touring edisi ini saya tutup bahwa “ternyata di usia tua ini justeru menemukan perjalanan kedalam diri lebih mengaasyikkan”. Bersambung… Salam secangkir kopi seribu inspirasi…

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini