
TITIP RINDU UNTUKMU
Oleh : IBG Dharma Putra
“Marsinah, tak hanya tentang buruh menuntut upah tetapi lambang keberanian warga biasa yang menolak haknya diinjak. Dari keberanian, banyak keberanian lain menemukan nyalanya. Orang yang sebelumnya diam mulai tegak serta berdiri bersama, satukan langkah serta suara, menggelorakan harapan akan dunia yang lebih adil dan setara.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Ibu Marsinah, tertulis namamu di bawah potret wajah sendu mu yang tetap kubaca Marsinah, tanpa embel embel ibu, tak karena kehilangan hormatku tapi hanya inginkan nama satu kata sederhana, tak panjang, berlapis gelar. Nama yang menyimpan gema perjuangan melampaui zamannya. Marsinah, namamu terasa akrab, seperti sapaan dari tanah Nusantara yang jujur.
Nama satu kata sederhana itu, mengingatkan kepada jalan panjang seorang perempuan yang ditempa kuat oleh kerasnya kehidupan, memilih berdiri tegak, menjaga martabat kemanusiaan, menolak ketidakadilan, dan mempertahankan keyakinan bahwa manusia wajib diperlakukan setara.
Pada tonjolan tulang wajah serta guratan yang membingkai senyummu, tersirat keteguhan, tak lekang oleh waktu, dengan sebuah keyakinan bahwa kebenaran mungkin datang terlambat, namun tidak pernah berhenti dicari oleh mereka yang peduli. Wajahmu tak memerlukan polesan kemunafikan untuk tampak apa adanya.
Wajah seorang gadis desa, kesederhanaannya sembunyikan keberanian garang, mengepalkan tekad di tangan perjuangan dan percaya bahwa ketika kaum buruh bersatu, bisikan yang paling lirih pun dapat menjelma menjadi suara yang mengguncang cakrawala. Kesederhanaan itu, menjadi kekuatanmu, sehingga tak tunduk pada ancaman, tidak surut oleh tolakan.
Marsinah, tak hanya tentang buruh menuntut upah tetapi lambang keberanian warga biasa yang menolak haknya diinjak. Dari keberanian, banyak keberanian lain menemukan nyalanya. Orang yang sebelumnya diam mulai tegak serta berdiri bersama, satukan langkah serta suara, menggelorakan harapan akan dunia yang lebih adil dan setara.
Suaramu pernah dibungkam, walau tak pernah benar benar hilang. Getarannya berkelana dari tahun ke tahun, dari hati ke hati, menjadi gema yang terus memanggil hati nurani. Menggedor ingatan tentang negeri yang dibangun di atas nilai luhur Pancasila bisa tersesat, menyirnakan keadilan, di saat kekuasaan memilih menindas dibandingkan mengayomi.
Kepergianmu tinggalkan tanya dipenuhi sendu, tentang kuasa yang seharusnya melindungi tapi melukai, tentang amanah yang berubah marah. Misteri tanya tak selesai, hidup bersama ingatan bangsa sehingga kematianmu menjadi catatan sejarah, cermin moral yang meminta jawab.
Ada asa dibalik tanya, warisan terindah yang kau titipkan kepada generasi muda, keberanian untuk menjaga nurani tetap menyala. Bahwa Pancasila bukan sekadar kata tapi nilai hidup di keseharian. Bahwa keadilan tak lahir dari belas kasihan, tetapi dari perjuangan yang tak kenal lelah. Bahwa pembangunan tak berteman adil hanyalah wajah lain kezaliman dan membiarkan jurang kemiskinan adalah khianat kemanusiaan.
Bara semangat terbawa dari desa kelahiranmu, mengingatkan bahwa perjuangan bukan akhir sebuah kisah, tetapi awal tuntutan yang belum selesai. Bara kutulis untuk titip rindu untukmu, dibawa desiran kalbu kepada pusara mu. Rindu kepada keberanian yang tak dapat dibeli. Rindu kepada kejujuran yang tidak berkompromi. Pada suara yang tetap hidup, saat tubuh tiada lagi.
Dan kau, bukan cerita usang yang berdebu, tapi puisi zaman, lagu merdu dilantunkan oleh angin lalu, bak desiran malam nan berbisik menyentuh kalbu, memanggil jiwa jiwa yang percaya bahwa keadilan layak diperjuangkan.
Banjarmasin
07062026







