
KONJUNGSI CINTA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Konjungsi cinta menemukan maknanya ketika kecantikan perempuan bertemu dengan lelaki yang tak hanya berkeinginan tetapi mempunyai eksistensi berupa kemandirian. Konjungsi dapat bersifat korelatif, koordinatif atau subordinatif. Kalau kecantikan adalah magnet maka mandiri adalah gravitasi yang menjaga hubungan tetap berada pada orbitnya. Cantik ataupun mandiri adalah konjungsi cinta.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Konjungsi adalah kata penghubung. Dalam tata bahasa berguna untuk menyatukan kalimat, tapi konjungsi cinta, istilah belum pernah terucapkan bahkan tidak pernah ada, hanya gagasan yang terlahir dari keberanian memberikan nama pada lintasan pikiran, tentang kekuatan asmara yang menjadikan sepasang hati saling mencinta serta menyatu dalam jiwa. Konjungsi cinta membuat aku menjadi kita, tanpa kehilangan jati dirinya masing masing.
Konjungsi cinta menemukan maknanya ketika kecantikan perempuan bertemu dengan lelaki yang tak hanya berkeinginan tetapi mempunyai eksistensi berupa kemandirian. Konjungsi dapat bersifat korelatif, koordinatif atau subordinatif. Kalau kecantikan adalah magnet maka mandiri adalah gravitasi yang menjaga hubungan tetap berada pada orbitnya. Cantik ataupun mandiri adalah konjungsi cinta.
Kecantikan perempuan kerap menjadi konjungsi cinta karena menjadi bahasa pertama yang bisa mempertemukan, tentu tak hanya fisik saja tapi utuh menyeluruh lahir dan batin,keindahan budi, ketulusan dan kesetiaan sedang mandiri dapat merupakan daya tarik karena menjadi pertanda kemampuan sebagai tempat untuk bersandar.
Perempuan dikategorikan cantik, kalau proporsi tubuhnya memikat mata, tumpukan lemak yang berjumlah cukup pada tempat yang semestinya.
Anugerah kecantikan adalah pintu pertama bagi mendekatnya pria dan dipintu itu pula seorang perempuan potensial takluk jika si lelaki mampu memberi kejutan tak terduga di saat yang tidak terduga. Kejutan kecil yang lahir dari ketulusan jauh lebih mahal dibanding kemewahan tanpa makna. Kejutan lebih mudah dibuat dan timbul dari kemandirian lelaki.
Berbahagialah lelaki nusantara, karena mandiri terlatihkan tidak sengaja, dalam kehidupannya, ketika terpaksa berjuang membangun peluang, menjadikannya tersiksa tetapi berujung terbiasa mandiri, di lain sisi perjuangannya, tak membuat hilang kewajibannya pada negara melalui pajak disertai berbagai beban sosial. Kondisi tersiksa yang melahirkan daya tahan tidak terbeli serta watak keras yang lentur. Mungkin sifat itu yang disebut resiliensi.
Mungkin saja pendapat itu salah karena sering terlihat lelaki bule lebih diminati oleh perempuan Indonesia, sekaligus sebagai pertanda bahwa selera tak pernah tunduk pada batas geografis dan cinta tak kenal paspor. Walaupun begitu, tidaklah diperlukan maaf untuk pendapat salah karena maaf hanya diperlukan jika ada yang terluka serta tak hanya karena ada kemarahan karena pendapat berbeda.
Kemarahan yang timbul karena beda pendapat, tetap perlu dipedulikan dan dapat menjadi awal kewaspadaan, bertindak lebih hari hati karena marah bisa menimbulkan dendam. Marah hanya api yang menyala sesaat tetapi dendam adalah bara yang tersimpan lama, terus menghidupkan penderitaan dan memutar kenangan pahit serta kekecewaan yang menunggu waktu untuk balas menyakiti.
Pendendam tidak menyadari ironisnya dendam, yang sering menghukum pemilik dibanding yang dibenci, menggerogoti pikiran, mengaduk aduk ketenangan, memperpanjang kecemasan, serta merambat ke tubuh berbentuk berbagai macam penyakit karena stres maupun penyakit jantung. Sebuah bukti bahwa kemenangan yang tertinggi adalah melepas dendam dari dalam benak dan menjadi mampu berdamai dengan diri sendiri.
Konjungsi cinta tidak semata hubungan antara lelaki dan perempuan tetapi perjumpaan antara kecantikan dengan penghormatan, kemandirian dengan tanggung jawab. Konjungsi cinta dapat mengubah cinta dari sekedar perasaan menjadi jalan terbaik menyatukan hati tanpa kehilangan kebebasan diri. Sebuah cinta yang dewasa nan memanusiakan manusia,
Banjarmasin
12072026







