
BISIK CINTA DI HENING SEMESTA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Jiwa teduh, yang mampu mengingat bahwa kita berasal dari tanah yang sama, di bawah langit yang sama, dan akan kembali kepada tujuan yang sama. Jika masih ada ruang untuk duduk bersama, mendengar tanpa prasangka, bicara tanpa kebencian, dan saling beda tanpa saling meniadakan, maka harapan belum benar benar padam.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Perjalanan spiritual merupakan perjalanan sunyi di dalam keheningan mandiri sehingga potensial melihat ataupun mendengar yang hakiki secara lebih jelas karena situasi memang sepi. Pikiran yang tidak terbebani bak sampan tak kelebihan muatan yang cenderung karam sebelum tujuan. Benak yang sendiri akan melihat paradoks yang tak berganti dan tetap saling melengkapi buruk dan baik ataupun penjahat dan pahlawan.
Semesta dalam harmoni keseimbangan kosmis, dualitas berlawanan saling melengkapi, seperti siang dan malam, yang berkembang mulai dari sangat berbeda sampai mudah dikenali, dengan
wilayah misteri, di pendaran fajar palsu karena debu kosmis menyelimuti bumi. Pendarannya vertical berbeda dengan cahaya horizontal dari fajar yang asli. Misteri itu disambut doa sebagai tanda memohon bekal kewaspadaan.
Saat ini, tak hanya ada fajar palsu tetapi seolah seluruh siang dan malam tak mampu dibedakan lagi, kehidupan tidak berjeda, bangun dan tidur hanya demi kepentingan serta bukan saat yang ditentukan secara kosmis lagi. Seolah baik dan buruk atau penjahat dan pahlawan sama saja dan diikuti oleh samarnya perbedaan kebenaran dan pembenaran.
Dalam kerumitan membingungkan itu, tidaklah mengherankan jika terjadi perbedaan pendapat yang berpotensi perpecahan, saling meyakini opini dan kebenaran sendiri serta kelompok nya sampai mengarah pada menyalahkan yang lain.
Selanjutnya saling benci sebab ketersinggungan saling ditiupkan menjadi besar dan di ujungnya, bukan tak mungkin terjadi tabrakan yang saling menghancurkan. Kemenangan jadi arang, kalah jadi abu.
Begitu bising, tergesa serta dipenuhi kesibukan kepentingan untuk bertahan dan menang, tidak ada lagi waktu berkontemplasi, mendengar bisik cinta di keheningan bumi, berpikir bahwa semua mempunyai kemungkinan salah sehingga dialog mestinya dijadikan cara mempersempit jurang perbedaan. Kemungkinan ditemukannya dilema antar kebenaran yang bisa diselesaikan dengan bekal kearifan yang bijaksana
Perjalanan sunyi ini, membawa pada lintasan pikiran bahwa dialog kebersamaan, selayaknya didasarkan oleh keadilan yang menyayangi dan menghormati, tidak ingin menyakiti, hanya ingin saling melindungi sebagai sebuah bangsa. Pada kondisi begitu, kritik bukan meminta untuk mati tetapi untuk menjadi lebih baik lagi. Bisik cinta di hening semesta memberi arah serta gairah bagi musyawarah tulus berona penerimaan
Keheningan tetap ingin independen, tidak ingin simpulkan salah atau benar tapi menganjurkan keberanian untuk tetap menjaga hati agar tidak ikut terseret menjadi salah, sebab perseteruan berkepanjangan jarang melahirkan kemenangan sejati, karenanya, orang tua yang menyaksikan anaknya berkelahi, takkan melihat salah benar sang anak tetapi pada luka ditimbulkan darinya. Tak penting pembuktian, karena perseteruan lah yang salah.
Kerusakan akibat perseteruan ada terbagi nya masyarakat menjadi pemenang dan pecundang, hendaknya berhenti, sebelum rasa kasih sayang berubah menjadi permusuhan yang diwariskan. Turunkan ego untuk mengadili jadikan keinginan menjaga hubungan yang retak masih memiliki potensi diperbaiki dan dipulihkan kembali. Untuk itu, tidak dibutuhkan suara keras, tapi jiwa yang lebih teduh.
Jiwa teduh, yang mampu mengingat bahwa kita berasal dari tanah yang sama, di bawah langit yang sama, dan akan kembali kepada tujuan yang sama. Jika masih ada ruang untuk duduk bersama, mendengar tanpa prasangka, bicara tanpa kebencian, dan saling beda tanpa saling meniadakan, maka harapan belum benar benar padam.
Dari keheningan, bertumbuh kesadaran bahwa bangsa tidak dibangun oleh mereka yang selalu sepakat, tetapi oleh mereka yang tetap memilih bergandengan tangan walau sedang berbeda dan itulah kemenangan hakiki, ketika kasih dan kebersamaan lebih diutamakan daripada hasrat untuk saling mengalahkan.
Banjarmasin
22062026







