MEMAKNAI HAL-HAL KECIL (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

MEMAKNAI HAL-HAL KECIL

Oleh : Syaifudin

“…begitupula untuk senang dan berbahagia, kita tidak perlu menyandarkan kepada raihan-raihan besar dalam hidup ini, cukup dengan ha-hal kecil yang kita bisa saksikan dan nikmati sudah cukup untuk membuat kita tersenyum senang dan Bahagia.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Dalam kehidupan ini kita berhadapan dengan dikotomi yang saling bertolak belakang, yaitu suatu kondisi atau keadaan yang kita anggap “besar” dan sebaliknya ada kondisi atau keadaan yang kita anggap “kecil”. Tentu besar dan kecilnya tersebut tergantung dari tolak ukur dan bidang atau hal apa yang menjadi tolak ukurnya.

Semesta itu besar, maka dunia, bumi itu kecil, benua itu besar, maka pulau itu kecil, bangsa  itu besar, maka kampung saya kecil, uang 1 triliun besar sementara jutaan itu kecil atau bahkan jutaan itu besar tapi puluhan rupian itulah yang kecil, jabatan presiden itu besar, jabatan ketua rt itu kecil, ulama itu sejuta umat itu besar sedangkan guru dikampung itu kecil dan seterusnya.

Disisi lain ada naluri manusia menyukai hal-hal yang besar tersebut untuk tujuan kehebatan, kedahsyatan, keluarbiasaan atau sering disebut spketakuler, masih ingatkan kita peribahasa “bercita-citalah setinggi Bintang dilangit”, “bermimpilah yang besar”, sehingga yang “besar” ini akan merangsang atau memacu semangat orang untuk bersemangat melakukannya.

Tidak salah memang berorientasi pada hal-hal yang besar tersubt, namun kelemahannya kita terkadang tidak tahu dari mana memulainya, dan bahkan ada kecenderungan kalau nanti hal itu tidak tercapai ada semacam permakluman pada diri kita adanya kewajaran apabila tidak bisa direalisasi atau dicapai karena “memang besar”, sehingga seolah-olah itu menjadi pembenaran bagi diri kita untuk maklum adanya (memaafkan diri).

Lantas apakah hal-hal kecil itu tidak menarik ?

Perhatikanlah ungkapan, “kalau kamu mau memakan daging seekor Sapi atau “Gajah”, maka potonglah dagingnya kecil-kecil agar secara sedikit demi sedikit akhirnya kamu dapat menghabiskan satu ekor sapi tersebut”, “jutaan kilometer itu selalu dimulai dengan Langkah pertama”.

Beorientasi pada hal-hal yang kecil ini bisa bermakna :

  1. Strategi, yaitu memulai tujuan atau pencapaian yang besar mesti dimulai dengan Langkah-langkah kecil yang semuanya diarahkan untuk menuju hal-hal yang besar tersebut, seperti kita ingin punya uang yang banyak, maka menabunglah sedikit demi sedikit, kita ingin usaha kita besar, maka mulaikan dengan usaha kecil, kita ingin puasa nabi Daud, mulailah dengan menuntaskan puasa wajib dan lanjut dengan puasa senin kamis, kita ingin punya wawasan yang luas dengan membaca 100 buku(kitab) maka mulailah dengan membaca 5 lembar atau halaman buku perhari.
  2. Proses, yaitu untuk mencapai hal-hal besar, maka diperlukan proses untuk mencapainya, proses tersebut adalah dengan melakukan hal-hal yang kecil dan kemudian hal-hal kecil itu akan menjadi “habit” atau kebiasaan dalam kehidupan kita, seperti mulailah dengan tersenyum apabila ketemu orang, maka senyuman ini akan memmbentuk akhlak yang baik, saat menginginkan hidup sehat berolah raga, maka mulailah dengan bangun pagi lebih awal (10) menit dari biasanya dan gunakan 10 menit tersebut untuk jalan atau olah raga ringan dan seterusnya.
  3. Mudah atau tidak berat untuk dilakukan, saat kondisi “kecil” maka hal-hal yang kecil dalam “pertimbangan” fikiran dan perasaan kita akan ringan untuk dilakukan, seperti kalau ingin berinfak bagi mereka yang mempunyai uang sepuluh ribu, makai a akan ringan untuk mengelaurkan sebesar lima ribu, padahal ini jumlahnya 50 % dari uang yang dimilikinya, tapi bayangkan kalau ada punya uang serratus juta rupiah, maka apakah ringan untuk mengeluarkan uang infaq lima puluh juta rupiah ?

Sahabat ! begitupula untuk senang dan berbahagia, kita tidak perlu menyandarkan kepada raihan-raihan besar dalam hidup ini, cukup dengan ha-hal kecil yang kita bisa saksikan dan nikmati sudah cukup untuk membuat kita tersenyum senang dan Bahagia.

Bayangkan betapa senangnya melihat dan mengalami bercengkrama dengan cucu, menyiram dan berbicara dengan tanaman kita, bercengkarama dengan hewan peliharaan kita, menyapu dan membersihakn dan merapikan kamar tidur kita, menyaksikan dan berdoa saat hujan turun, berjemur menikmati Cahaya mata hari dihalaman rumah,  melihat wajah tersenyum seorang pengemis yang kita kasih uang kecil, segelas kopi menemani kita membaca atau mendengarkan lagu kenangan dan konten inspiratif sudah cukup membuat keseharian kita senang dan Bahagia, terlebih bagi saya menyeduh kopi sambil bersalawat adalah kenikmatan tersendiri, sehingga pantaslah Allah mensetirnya “nikmat mana lagi yang kamu dustakan”.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini