
PENGASUHAN CINTA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Prinsip pengasuhan bukan belajar matematika, menghitung banyaknya pemberian tapi merasa dalamnya cinta melalui pengalaman sederhana, agar tumbuh keyakinan bahwa dirinya berharga di hadapan keluarga, diantara sesama manusia dan di hadapan Tuhan.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Saya meyakini seorang anak yang tumbuh pada lingkungan cinta nan penuh kasih akan menjadi dewasa dan mampu memahami serta menerima alam semesta dengan tulus seperti apa adanya. Dunia dipahaminya dari nasihat dan cerita yang didengar, teladan kedua orang tua serta orang di sekitarnya, pengalaman dan membaca buku secara mandiri.
Lingkungan cinta dapat diperdengarkan melalui ketawa keluarga, terutama suara ketawa orang tua, ayah dan ibunda, jika mungkin bernuansa sama, setiap saat di telinganya, karena suara tertawa adalah suara terindah di bumi tercinta. Tidak ada melodi yang lebih merdu dari tawa yang terlahir dari cinta yang tulus. Tertawa memastikan kehadiran cinta dalam pengasuhan keluarga.
Tawa orang tua tak hanya bunyi yang memecah sunyi tetapi doa yang menjelma suara, mengalir lembut ke dalam jiwa anak, bersemayam serta menjelma menjadi rasa aman, percaya diri, dan harapan. Dari suara tertawa mesra kemerduan kasih, anak belajar bahwa kebahagiaan bukan kemewahan yang harus dibeli tapi kehangatan yang diciptakan bersama.
Rumah yang dipenuhi gelak tawa penghuninya, merupakan sekolah pertama yang mengajarkan kasih sayang tanpa perlu berkata, mengajarkan kesabaran tanpa petuah, syukur tanpa perlu ceramah, juga mengajarkan niat baik. Semua itu berpotensi rahmat sebagai bekal hidupnya, saat bertemu kegagalan serta kehilangan maupun berbagai badai zaman dipenuhi onak dan duri kehidupan.
Kenangan akan tawa ayah dan bundanya akan hadir laksana cahaya purnama yang menembus pekatnya malam, indah, merdu merayu di kalbu, mengingatkannya bahwa di dunia kehidupannya pernah ada cinta yang begitu murni, yang tetap dan selalu dimilikinya, hingga membuat mampu menguatkan langkahnya, bahkan ketika seluruh dunia seolah berpaling darinya.
Sadarilah untuk tidak pelit menghadiahkan tawa kepada keluarga, karena mungkin saja, tertawa menjadi warisan abadi yang akan dikenang oleh seorang anak, pada saat harta, jabatan, segala megah dunia, terlupakan bersamaan berlalunya waktu. Tertawa tak hanya ekspresi kegembiraan tetapi mampu membentuk karakter, ketahanan jiwa, dan cara seorang memandang kehidupan.
Selain dengan tertawa, pengasuhan cinta dapat dilakukan dengan berbagai cara unik yang amat tergantung tradisi, budaya serta kearifan setiap keluarga. Bisa dihadirkan melalui pelukan tulus nan mesra, belaian kasih menenangkan, tatap dipenuhi dukungan, doa nan lirih di setiap sujud, makan bersama, mendengarkan sepenuh hati, atau genggaman bisu nan penuh makna.
Umumnya ditunjukkan serta ditanamkan melalui keteladanan, kejujuran, kesabaran, disiplin yang penuh kelembutan, serta kesediaan untuk selalu hadir, tak hanya raga tetapi disertai dengan jiwa seutuhnya. Cinta tak selalu bersuara, terkadang diam dalam heningnya sepi, fasih bicara sunyi, untuk membentuk batin.
Prinsip pengasuhan bukan belajar matematika, menghitung banyaknya pemberian tapi merasa dalamnya cinta melalui pengalaman sederhana, agar tumbuh keyakinan bahwa dirinya berharga di hadapan keluarga, diantara sesama manusia dan di hadapan Tuhan.
Pengasuhan cinta, tak hanya proses membesar secara fisik tetapi tumbuh subur secara mental, ikhtiar membangun jiwa dan raga supaya dapat menjadi manusia yang mampu mengasihi tanpa syarat, berbuat baik tanpa pamrih dan hadirkan kedamaian di tempat kehidupannya berlabuh.
Pengasuhan cinta itu sangat sederhana karena mampu dilakukan oleh semua kita, tidak melalui kemewahan atau kelimpahan materi tapi melalui kehadiran yang utuh, sentuhan, doa, perhatian, keteladanan, dan waktu yang dibagikan dengan tulus. Begitu mudah tapi benih kasihnya berakar dalam ingatan, lalu kemudian berbuah menjadi karakter, kebijaksanaan, kemampuan mencintai kehidupan.
Banjarmasin
31072026







