MENAKAR KEBAHAGIAAN ? (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

MENAKAR KEBAHAGIAAN ? (SERI SECANGKIR KOPI SERIBU INSPIRASI)

Oleh : Syaifudin

Pada level kenikmatan ini, oleh Ahi Hikmah sering disebut juga dengan level Ketenangan” yaitu level jiwa yang “Ridho” atau suatu kondisi menerima terhadap apapun yang sudah saya terima dan bisa nikmati. Baginya yang didapatkan dalam kehidupan itu adalah anugerah, termasuk hidupnya sendiri adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Ahli hikmah umumnya selalu beranjak dari menggugah kesadaran bahwa suatu ilmu atau pengetahuan  tidak cukup hanya berhenti pada level “pengetahuan” akan tetapi mesti dilanjutkan pada level “pemahaman” agar kita benar benar dapat mengerti ilmu atau pengetahuan tersebut. Selanjutnya diteruskan pada level “kesadaran” bahwa ilmu atau pengetahuan tersebut akan bermanfaat bagi kehidupan kalau diamalkan atau dipraktekan, sehingga ilmu pengetahuan tersebut dapat merubah kehidupan kita. Kesadaran akan hal tersebut selalu ditanamkan oleh Kampus Wisdom Secangkir kopi seribu insprasi  dengan prinsip “berilmu, berkarya dan beramal.

Begitupula saat membicaraka hal-hal yang sudah lajim dalam kegidupan kita, akan tetapi sering kita melalaikan untuk merenungkannya dari sisi pengetahuan, pemahaman dan kesadarannya sehingga terkadang hal-hal yang sederhana itu “luput” dari perhatian kita. Seperti tentang KEBAHAGIAAN yang begitu lajim dan sangat akrab dalam kehidupan kita dan bahkan kalau ditanyakan tentang hal ini kita anggap sesuatu yang memang kita inginkn kehadirannya dalam kehidupan kita, baik itu sebagai tujuan ataupun saat mencapai proses tujuan itu.

Akan banyak versi dan jawaban pada saat kita mencoba memberikan pendapat tentang “kebahagiaan” ini tergantung pada subjektifitas kehidupan kita masingmasing, namun ada “benang merah” yang menyambungkannya, bahwa kebahagiaan itu adalah kondisi ideal sesuai fitrah manusia yang ingin Bahagia dan tidak ingin menderita dalam hidupnya.

Dalam pendekatan “wisdom” terdapat level atau radasi pada saat kita memberikan makna tentang kebahagiaan ini, yaitu :

  1. Level kesenangan, sebuah level perasaan senang yang muncul pada saat kita mencapai atau memenuhi “suatu dorongan keinginan” yang kemudian kita nikmati capaan keinginan itu. Umumnya keinginan tersebut ditentukan oleh kuantitas dan kualitas yang bersifat kebendaan, seperti makanan, rumah, mobil, perhiasan sampai hal yang bersifat “gengsi social” seperti ketenanran dan kekuasaan. Sayangnya level kebahagiaan yang didasarkan pada kesenangan ini durasi waktunya pendek, karena saat terpenuhi akan muncul keinginan lainnya, atau bahkan saat menikmatinya sudah muncul keinginan berikutnya yang justeru menurunkan Tingkat kebahagiaannya justru saat ia menikmatinya.
  2. Level kemenangan, sebuah level perasaan gembira atau Bahagia pada saat tercapainya suatu rencana atau cita-cita yang lebih “besar” dari pada sekedar dorongan keinginan sebagaimana pada level kesenangan di atas, tapi level kelanjutannya. Level ini ditandai oleh suatu perencanaan dan dikuti oleh usaha yang memerlukan “pengorbanan” sampai kemudian berhasil mencapainya seperti berhasil lulus dalam Pendidikan tinggi, meraih kekuasaan politik (elit), singkatnya kebahagiaan yang ditandai oleh berhasilnya atau suksesnya dalam mencapai target-target symbol social kehidupan yang menempatnya pada starta social yang “hight”.
  3. Level kenikmatan, sebuah level perasaan senang yang lebih dalam dan lama dari pada level kesenangan, karena pada level ini perasaan senang tidak digantungkan kepada sesuatu pemenuhan keinginan kebendaan dan gengsi social, akan tetapi kesenangannya diletakan pada “hat” saat menikmatinya. Oleh karena itu bukan tempat makan dan jenis makanan yang mahal yang membuatnya Bahagia, akan tetapi makan diwarung sederhana dan menu sederhana sudah mampu membuatnya senang karena didasari pada “sikap hati” yaitu perasaan yang didasarkan pada rasa “kesyukuran dan keikhlasan” dalam menerima atau menikmati yang dianugerahkan kepada kita”.

Pada level kenikmatan ini, oleh Ahi Hikmah sering disebut juga dengan level Ketenangan” yaitu level jiwa yang “Ridho” atau suatu kondisi menerima terhadap apapun yang sudah saya terima dan bisa nikmati. Baginya yang didapatkan dalam kehidupan itu adalah anugerah, termasuk hidupnya sendiri adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa.

Sahabat ! saya sering reflek menyebut bahwa Bahagia itu sederhana, segelas kopi dan sepotong kue dipagi hari sambil menghirup udara segar disertapi terpaan sinar Mentari pagi adalah nikmat yang membuat kita Bahagia, dan begitulah segala kejajian manakala kita maknai sebagai “kenikmatan” akan membuat kita tenang dan merasa Bahagia, bahkan sekalipun itu yang pahit dan setelah berlalu ternyata itulah yang membuat kita menikmatinya dengan senyum dan  “tertawa”.

Salam secangkir kopi seribu inspirasi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini