
NASIHAT CINTA KAKEKKU
Oleh : IBG Dharma Putra
“Kakek melalui cerita, tanpa kusadari, mengajar untuk mengendalikan emosi, membatasi ingin, mempelajari ilmu serta belajar merasa cukup agar hidup menjadi damai dan bahagia, karena marah membawa kepada kehancuran, nafsu itu membawa penderitaan, ilmu membawa kepada kebaikan dan rasa cukup akan membawa pada kebahagiaan.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Kakek dari jalur ibuku, seorang petani, berbagai tanaman dari padi di sawah, kelapa, kopi, disela selanya ada vanili, nanas dan berbagai buahan. Kakekku tinggal di desa, jauh dari keramaiannya kota, tapi selalu menjadi pilihanku untuk tempat berlibur, berbeda dengan saudaraku yang lebih memilih berkunjung ke Denpasar, Surabaya dan atau ke ibu kota Jakarta.
Pilihan yang aku kira terjadi karena bekal yang akan diberikan kakek di akhir liburan, berupa satu kali hasil panen kelapanya, yang saat itu, jumlahnya sangat besar untukku walau akhirnya kusadari bukan itu, tetapi karena aku suka akan cerita kakek nenek serta membaca berulang kali buku buku lama yang ada di salah satu kamar sederhana di rumah kakekku.
Buku lama selalu kubaca hanya huruf latin yang berbahasa indonesia karena tak paham aksara bali dan bahasa sanskerta nya. Aku akan mulai terlarut asyik di dalam kisah kepahlawanan dan kisah itu, terkadang spontan teringat sekarang jika terbawa oleh suasana yang terjadi. Saat ini, sudah diperkaya oleh ingatan yang didapat saat berdialog bersama kakek tentang nasihat yang tersembunyi dibalik cerita hebat itu. Aku senang sastra karena sastra dan ceritanya tidak pernah memaksa melalui petunjuk yang mengajari tapi menginspirasi, mengubah tanpa disadari.
Kakek pernah bercerita saat melihatku sedang membaca kitab yang aku lupa judulnya, kisah pengendalian diri, marah yang membawa maut, nafsu yang berbahaya, ilmu yang memberikan segalanya serta rasa puas yang serupa dengan rasa yang ada di taman surga. Cerita yang saat itu, terasa menasehati ku, cucunya yang mudah marah tidak karena keinginannya tidak dipenuhi tetapi hanya karena dipenuhi tidak sepenuhnya sesuai keinginan.
Kakek bercerita, dikuasai marah bisa hilangkan kebaikan yang berada dalam diri, seperti pikiran jernih, hubungan baik,bahkan semua perbuatan baik yang pernah dilakukan. Ujung kehancuran hidup serta hidup kehilangan arah, menantinya. Menurut kakek, ketika amarah mengambil alih, masalah tak terlihat oleh mata hati tapi dengan bara yang membakar diri. Katanya, menang itu jika mampu kendalikan marah, mengalahkan diri dan bukan mengalahkan orang lain.
Begitu juga dengan nafsu keinginan berlebihan, dapat menjebak menjadi derita, pemenuhannya akan menyiksa serta tidak memberi kepuasan sejati, kepuasan seperti rasa di taman surga, terasa cukup dipenuhi syukur, damai, bahagia dan hati yang tenteram. Keinginan tak berbatas akan melahirkan keinginan berikutnya, sehingga tetap merasa kekurangan. Kepuasan hanya ada jika bisa menerima yang diberikan kehidupan, apa adanya.
Kakek juga bercerita perlunya belajar dan ilmu, sebab dengan ilmu bisa menemukan kebenaran dan jika diikuti dengan kebijaksanaan, berujung pada kebahagiaan sejati. Ilmu membuat tidak mudah terseret oleh yang tampak benar, karena mengajarkan bertanya, mencari, memahami dan mempertimbangkan sebelum ambil keputusan. Ilmu tak boleh hanya dijadikan alat sehingga wajib ditemani kearifan agar bisa menghadirkan manfaat bagi semesta
Kakek melalui cerita, tanpa kusadari, mengajar untuk mengendalikan emosi, membatasi ingin, mempelajari ilmu serta belajar merasa cukup agar hidup menjadi damai dan bahagia, karena marah membawa kepada kehancuran, nafsu itu membawa penderitaan, ilmu membawa kepada kebaikan dan rasa cukup akan membawa pada kebahagiaan.
Kini aku mengerti, warisan terbesar kakek, tidak hasil panen kelapa yang dahulu begitu kunanti, tetapi nasihat yang diam diam tumbuh di dalam ingatan. Dan setiap kali hidup terasa gaduh, aku seperti kembali ke rumah sederhana itu, duduk di dekat kakek, mendengar kembali suara masa lalu yang mengajarkan bahwa kekayaan hidup tak terletak pada kepemilikan tapi pada sukses memberinya makna.
Warisan kakekku adalah nasihat cintanya pada cucu sulungnya ini. Hormat sepenuh cinta pada kakekku juga pada ibuku, ayahku serta saudara lelakiku yang telah berpulang mendahului aku. Aku Cinta Padamu.
Banjarmasin
24092026







