MEKKAH DAN MADINAH (SERI OPINI IBG DHARMA PUTRA)

MEKKAH DAN MADINAH
Oleh : IBG Dharma Putra

“Kota suci secara sengaja, diciptakan dua buah, agar saling lengkapi dan tak saling meniadakan. Mekkah serta keberadaan Masjidil Haram serta Ka’bah di satu sisi dengan Madinah, tempat dari Masjid Nabawi disertai Makam Nabi merupakan simbolisasi dunia dan akhirat, sekaligus menjadi tempat dirasakan keterhubungan di antara fana dan abadi, antara dirinya dan Yang Maha Kuasa.”

SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Perjalanan hidup yang hakiki, sebenar benarnya tak semata langkah kaki, tapi perjalanan nurani, sehingga akan menyentuh hati, yang terkadang lalai dipahami. Kelalaian semacam itulah, yang bisa dikecilkan oleh Mekkah dan Madinah sebab keduanya didatangi sengaja, dengan persiapan cukup paripurna untuk penuhi panggilanNya.

Kedua kota suci itu, menjadi pengingat teramat kuat serta jernih, untuk menyikapi kehidupan tak hanya dengan menjalaninya tapi juga memaknai dengan kesadaran dan akhlak yang baik. Kedua kota suci, jika dipahami secara substansi, dapat membuat kehidupan menjadi indah bersamaan dengan makin tebalnya keimanan. Hakekatnya, keindahan, berakar pada keimanan yang makin menebal.

Hal itu, mungkin terjadi karena kedua kota suci tersebut merupakan God Spot, mempermudah pembukaan jiwa pada keagungan ilahi, disertai koneksi kesejarahan yang semakin menebalkan harmoni religi dengan spiritualitas. Sebuah pola pandang sederhana setara dengan opini sangat lemah dari orang awam, masih harus ditera oleh para ahli ilmu hakekat maupun makrifat

Secara personal, sentuhan ilahi tepat pada area pre frontal cortex, sebab sesaat berada tepat di God Spot itu, dapat mencerahkan pikiran bahwa Mekkah dan Madinah sebagai dua paradoks tak terpisahkan, saling menyempurnakan bak siang serta malam yang seimbang dalam perputaran bumi mengelilingi matahari.

Kota suci secara sengaja, diciptakan dua buah, agar saling lengkapi dan tak saling meniadakan. Mekkah serta keberadaan Masjidil Haram serta Ka’bah di satu sisi dengan Madinah, tempat dari Masjid Nabawi disertai Makam Nabi merupakan simbolisasi dunia dan akhirat, sekaligus menjadi tempat dirasakan keterhubungan di antara fana dan abadi, antara dirinya dan Yang Maha Kuasa

Madinah yang ritual berona manusiawi dengan kesibukan duniawi disempurnakan oleh Mekkah dengan keimanan spiritualitas, dalam harmoni keheningan, bisa memberi kesimpulan, bahwa keberadaan Madinah untuk belajar cinta kasih, empati, toleransi dan perdamaian serta Mekkah untuk belajar menyerah, pasrah dalam tulus nan ikhlas.

Mekkah ataupun Madinah, memang dibuat dua, bukan Mekkah saja atau Madinah saja,sehingga salah satunya tidak akan bisa diluaskan secara paripurna, bahkan dalam imajinasi, karena wajib menyisakan area bagi yang lain. Seluas luasnya Mekkah tetap menyisakan ruang untuk Madinah dan selebar lebarnya Madinah menyisakan area bagi Mekkah. Substansinya, bahwa ketuhanan tak terlepas dari kemanusiaan atau sebaliknya.

Dengan jernih teramat jelas diperlihatkan bahwa hidup tidak dapat sempurna hanya dengan satu sisi semata tapi memerlukan dua sisi, walaupun terkadang tampak beda tapi sebenarnya saling melengkapi. Keduanya seperti dunia di luar dan dunia di dalam, yang bersatu dalam jiwa. Hal itu berarti,Tuhan yang tak kasat mata serta berada dalam misteri sempurna, tidak mampu dipahami tanpa keberadaan Nabi, manusia nan sempurna untuk tempat belajar dan meniru perkataan dan tindakannya.

Bahwa yang ilahi dipahami melalui yang insani, dan yang abstrak dijangkau melalui yang nyata. Dengan begitu, Makkah dan Madinah, menjadi bukti dari kekuasaan serta kehendakNya, dan pintu masuk keislaman seseorang jika meyakini keesaan Tuhan sekaligus bersaksi Muhammad sebagai nabiNya.

Mekkah Madinah mengandung arsitektur dalam harmoni sempurna. Keseimbangan spiritual dan ritual, karena jika semata ritual akan memaksa serta menyeragamkan, bahkan melihat hal lain sebagai kesalahan yang harus disempurnakan, sehingga perlu spiritualitas, agar berisi empati berujung damai. Semata spiritual akan berujung keberagaman tidak terkendali, berjalan sendiri sehingga lupa pada sisi sosial kehidupan. Kita seharusnya mempunyai solidaritas maupun sisi soliter yang seimbang.

Pada akhirnya, Mekkah dan Madinah tak hanya tempat suci tapi pemberi pencerahan berbentuk pelajaran hidup yang utuh,mengingatkan bahwa jasmani dan rohani, kebebasan dan keteraturan, ketuhanan maupun kemanusiaan, tidak untuk dipertentangkan, tapi dirangkai dalam harmoni, agar ditemukan eksistensi diri, utuh, seimbang, dan dekat dengan makna penciptaannya.

Banjarmasin
21042026

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini