
PANCASILA
Oleh : IBG Dharma Putra
“Kelahiran Pancasila adalah titik temu kehendak semua menjadi kehendak bersama, sehingga wajar berposisi dan berperan istimewa, sebagai makna sebuah bangsa, karena tanpa Pancasila, Indonesia Indonesia tak hanya kehilangan arah tapi kehilangan makna sebagai sebuah bangsa yang utuh, bahkan takkan pernah ada.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Pancasila adalah fondasi kokoh dari bangunan bernama Negara Kesatuan Republik Indonesia, karena sudah disepakati sebagai dasar negara, ideologi bangsa dan sumber dari segala sumber hukum, hingga wajib dijelmakan sebagai warna jiwa, aroma raga serta nuansa kepribadian anak bangsa sekaligus pengikat keberagaman suku, budaya, bahasa dan agama dalam kesadaran kebangsaan Indonesia.
Kelahiran Pancasila oleh Bidan bernama Bung Karno pada 1 Juni, tak hanya momentum histori dan nostalgia sejarah semata tetapi merupakan ujung akhir dari perbenturan dialogis berbagai perbedaan, menjadikannya pelangi warna warni dalam kesatuan indah mewangi, sehingga layak disemayamkan dalam jiwa dan raga setiap anak bangsa.
Kelahiran Pancasila adalah titik temu kehendak semua menjadi kehendak bersama, sehingga wajar berposisi dan berperan istimewa, sebagai makna sebuah bangsa, karena tanpa Pancasila, Indonesia Indonesia tak hanya kehilangan arah tapi kehilangan makna sebagai sebuah bangsa yang utuh, bahkan takkan pernah ada.
Kelahirannya, yang diwarnai niat berkolaborasi, toleransi, saling sayang dan menghormati, tidak hanya layak diperingati pengibaran bendera di dalam upacara kenegaraan tetapi wajib diikuti dengan menjadikannya kompas batin, petunjuk arah melangkah dan pengingat nurani tentang arti kemanusiaan, kejujuran, tanggung jawab.
Kompas batin yang terjelma kan dalam tindakan nyata, berbentuk kerja keras, kerendahan hati, kesantunan omongan, kedisiplinan, pemikiran terbuka disertai kemampuan memperlakukan sesama anak bangsa secara adil dipenuhi cinta kasih. Tindakan yang potensial menjembatani perbedaan dan mengubahnya menjadi harmoni.
Harmoni keseimbangan kebangsaan Pancasila, adalah cahaya penuntun anak bangsa, menjahit keberagaman menjadi persatuan yang utuh, tak hanya hidup berdampingan tetapi saling dukung dan menguatkan, dalam budaya gotong royong. Pancasila adalah cermin kebersamaan didasari keadilan, budaya luhur spiritualitas nusantara.
Dalam imajinasi yang sangat pribadi, Pancasila adalah arsitektur nilai nan indah dan paripurna, bangunan bersisi tegas berkarakter jelas, bersisi atas Ketuhanan, empat sisi sampingnya adalah kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, keadilan, dengan fondasi gotong royong. Sangat cocok sebagai tempat berteduh serta bertumbuhnya kaum yang bernama Bangsa Indonesia.
Bangunan imajiner ini, wajib sering sering dilihat secara menyeluruh oleh segenap anak bangsa, terutama yang diberi amanah untuk memimpin, sehingga kebersamaan dalam cita cita adil dan makmur tak hanya dipertahankan tetapi mampu dicapai, tanpa keluar dari orbit kesepakatan dan arah bangsa tidak goyah oleh arus zaman.
Kesadaran hakiki dan kesadaran eksistensinya sebagai pejabat negara serta pemerintah yang membawa amanah untuk kesejahteraan rakyat, dimungkinkan akan terjadi jika jiwa dan raganya berputar, pada poros Pancasila, memperhatikan sisi atas serta semua sisi lainnya, juga fondasi gotong royongnya seperti gerakan thawaf pada benaknya sendiri.
Jika Pancasila sering sering di thawafi dengan kesadaran personal atau komunal yang bersisi sosial, moral serta spiritual maka para pejabat, akan tahu serta memahami Pancasila sebagai pusat perputaran ideologi, politik, ekonomi dan sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan bangsanya.
Kesadaran yang membawanya ke arah baik dan benar, karena menjadikan Ketuhanan sebagai pedoman tertinggi, kemanusiaan sebagai sikap, persatuan sebagai tujuan, kerakyatan sebagai cara, keadilan sebagai hasil dan gotong royong sebagai dasar yang tidak tergantikan.
Di ulang tahunnya, persembahan terbaik untuk Pancasila adalah memastikannya tetap sebagai penjaga kemanusiaan, persatuan, kerakyatan, dan keadilan di nusantara zamrud khatulistiwa, serta berupaya dengan bersungguh sungguh untuk menjadikannya penjaga nurani dan bukan hanya aksesori penghias pidato sehingga kuasa dan kekuasaan tetap manusiawi.
Banjarmasin
04052026







