
HIKMAH PERJALANAN
Oleh : IBG Dharma Putra
“Maka Mekkah dan Madinah menjadi semacam ruang hening, tempat jiwa diluruhkan dari hiruk pikuk, agar kembali peka dan jernih.”
SCNEWS.ID-BANJARMASIN. Perjalanan ke Mekkah dan Madinah sejatinya bukanlah perjalanan untuk bertemu dalam arti fisik, melainkan perjalanan untuk menyadari di dalam batin tentang keberadaan Tuhan dengan utusannya. Memenuhi panggilan kesadaran diri untuk lebih mengenal diri sendiri dalam harmoni semesta, secara mandiri.
Datang ke kedua kota suci tersebut, tak hendak bertemu Nabi atau Tuhan secara langsung, tak juga karena Tuhan hanya ada di sana dan Nabi masih menanti untuk disapa, tetapi karena ingin menikmati jejak makna dan memadatkannya di kehidupan keseharian untuk selamanya.
Saya tidak mampu membahasakannya dengan tepat, tetapi ada bahasa lucu dan tidak terlalu serius, yang dapat dipakai, yaitu sering sering pergi ke tanah suci karena ingin dekat dengan Tuhan adalah salah alamat, seperti salah dari orang yang ingin ketemu pemilik Mall dengan sering berbelanja ke mall tersebut. Kalimat amat koplak, yang ditiru dari teman.
Tuhan tidak pernah jauh, hadir di setiap denyut nadi dan tarikan napas, tanpa diminta. Namun manusia, yang gaduh dengan sibuk dan ambisi, sering lupa cara merasa dan punya kesadaran.
Maka Mekkah dan Madinah menjadi semacam ruang hening, tempat jiwa diluruhkan dari hiruk pikuk, agar kembali peka dan jernih.
Nabi pun tidak lagi dapat dijumpai dalam wujud raga, tetapi ajarannya hidup bak mata air yang terus mengalir meskipun sumbernya tak terlihat. Berziarah tak untuk bertatap muka, tetapi untuk menautkan rasa, mengingat teladan, menuntun perbaikan diri dan tumbuhkan rindu untuk selalu begitu.
Mekkah pada mulanya hanya lembah tandus, tapi pada akhirnya menjadi pusat kehidupan, pusat ibadah dengan ditemukannya Zamzam serta dibangunnya Kabah. Saat ini, kota Mekkah berkembang pesat menjadi kota modern.
Madinah adalah kota yang diberkahi, karenanya disebut kota cahaya serta merupakan tempat Nabi dimakamkan. Sekarang ini, kota Madinah menjadi pilar peradaban Islam, jantung spiritual umat Muslim.
Datang ke Mekkah dan Madinah, karena ingin mengkristalisasi eksistensi, seperti menangkap cahaya, akan jauh lebih mudah dilakukan jika difokuskan dengan lensa. Mekkah dan Madinah adalah lensa itu, merupakan Tanah Haram (Al-Haramain), tempat yang disucikan dan kota dilarang melakukan perbuatan yang tak disukai Tuhan.
Perjalanan ke Mekkah dan Madinah bak pulang ke rumah asal, bukan karena tidak bisa hidup di tempat lain, tapi mengambil jejak nostalgia,agar lebih mudah ingat eksistensi diri. Tepat di depan Kabah, diharap sadar, bahwa pusat kehidupan bukan dirinya, tetapi sesuatu yang lebih agung.
Banyak hal yang telah diupayakan dan tidak satupun sampai tujuan yang diharapkan tetapi banyak bahkan semua pencapaian, didapatkan begitu saja serta terjadi dalam hidup dipenuhi bahagia bernuansa suka dan duka.
Jika di Mekkah berharap kesadaran eksistensi, maka di Madinah, bisa belajar bahwa cinta dan akhlak adalah cara menghadirkan ajaran dalam kehidupan dengan paling nyata. Jika kamu baik, orang tak pernah bertanya agama yang kamu anut, begitulah Gus Dur mengatakannya.
Akhirnya, ke Mekkah dan Madinah, tidak untuk pertemuan fisik, tetapi pertemuan kesadaran, bahwa Tuhan selalu dekat, dan manusia hanya perlu menata hati agar mampu merasakanNya. Tandanya adalah menjadi lebih tenang, lebih jernih, lebih mampu memaknai hidup dengan lebih bijaksana. Saya sudah mulai menulisnya dalam bentuk panjang untuk sebuah buku.
Banjarmasin
13042026







